Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, realisasi investasi asing di Indonesia pada kuartal III 2014 cenderung stagnan dengan rata-rata pertumbuhan 16 persen. "Investor asing masih wait and see dengan situasi politik Indonesia," kata Josua kepada CNN Indonesia, Jumat (17/10).
Badan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat penanaman modal asing tumbuh 16,9 persen menjadi Rp 78,3 triliun ddari Rp 67 triliun periode yang sama tahun lalu. Singapura menggeser posisi Jepang dengan mencatat realisasi investasi terbesar kuartal III tahun ini yakni US$ 1,5 miliar. Negara lain yang juga banyak berinvestasi di Indonesia diantaranya Belanda dengan nilai investasi US$ 0,9 miliar dan Inggris US$ 0,8 miliar. Investasi dari Jepang turun karena sudah menyelesaikan proyek mobil murah raham lingkungan (LCGC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, jika Jokowi menaikkan harga premium dan solar tahun ini, maka akan ada penghematan Rp 100 triliun yang bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. Investor mau menanamkan modalnya lebih banyak di Indonesia selama infrastruktur bisa dibenahi. "Sebab infrasktruktur ini turut mempengaruhi besar kecilnya biaya logistik," ujar dia.
"Figur Joko Widodo ini fenomena yang luar biasa bagi dunia internasional. Hal ini harusnya bisa di kapitalisasi menjadi faktor pendorong investasi. Tentunya dengan ditambah sejumlah perbaikan," kata Mahendra, Jumat (17/10).
Mahendra menyebutkan salah satu kebijakan yang ditunggu investor adalah pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sehingga pemerintah memiliki dana lebih untuk mendanai proyek infrastruktur. Sebab dengan semakin tersebarnya secara merata infrastruktur ke daerah, semakin memudahkan investor dalam melakukan investasi.
"Kami telah mempersiapkan serangkaian program peningkatan investasi yang bisa digunakan pemerintahan mendatang. Seperti memperbaiki pelayanan investasi, sinkronisasi perizinan antar pelayanan terpadu satu pintu di daerah. Sehingga investor yang mau masuk ke lebih dari satu daerah, tidak perlu repot mengurus satu per satu izin di tiap daerah," ujar Mahendra.