"Tentu, kami masih menunggu arahan dari pemerintah (menteri) yang baru, akan kami lanjutkan atau tidak, kami hanya butuh review (peninjauan ulang) nanti," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi kepada CNN Indonesia, Jumat (24/10).
Bachrul menilai kerjasama IJEPA tidak bisa dihentikan begitu saja, mengingat fondasi hubungan ekonomi Indonesia dengan Jepang sudah terbentuk sangat kuat. Menurutnya, semula IJEPA diharapkan meningkatkan ekspor barang yang lebih bernilai tambah ke Jepang, tidak hanya bahan baku seperti sebelumnya. Selain itu, pemanfaatan IJEPA oleh pengusaha Indonesia juga rendah dan masih didominasi terkait most favored nation (MFN). "Kalau mau ekspor tumbuh 9 persen, Indonesia masih harus meningkatkan global value chancenya," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Pengamat ekonomi politik Indonesia-Jepang UPN Veteran, Shanti Darmastuti, menilai IJEPA tidak memberikan keuntungan bagi Indonesia, baik sektor perindustrian maupun perdagangan. hal itu tercermin dari defisit neraca perdagangan dengan Jepang yang mencapai US$ 5,49 miliar pada 2012.
Menurut Shanti, Jepang memang penuh semangat menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan negara-negara Asia. Namun, Jepang dengan sengaja memasang standarisasi yang tinggi bagi pasar dalam negerinya, sehingga produk asing tidak dapat masuk begitu saja. "Dalam semangat kerjasama yg dibangun Jepang, pasti ada kompetisi di dalamnya," ujarnya.
Untuk itu, ia menyarankan kepada pemerintahan Joko Widodo, untuk meninjau kembali perjanjian kerjasama tersebut. Sebab, jika terus dilanjutkan akan semakin merugikan Indonesia. "Setiap negara ingin melakukan perdagangan bebas untuk melindungi dan memperkuat struktur masing-masing negara," ujarnya.