"Gejolak saham akibat kisruh politik sepanjang semester I 2014 turut memicu perlambatan pertumbuhan premi asuransi. Sebagian besar asuransi jiwa itu unit link, jadi kalau sahamnya bergejolak, orang yang beli unit link ikut berkurang. Sehingga premi kuartal II kemarin turun," kata Hendrisman kepada CNNIndonesia, Jumat (31/10).
Saat ini menurut Hendrisman, kondisi bursa saham semakin stabil dan permintaan terhadap unit link kembali meningkat. Sehingga dia optimistis pertumbuhan asuransi jiwa bisa mencapai 10-11 persen sampai akhir tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akuisisi Asing
"Ke depan, investor-investor Asia akan semakin banyak lagi dan asuransi di Indonesia masih cukup menarik," kata Hendrisman.
Dia berpendapat pemerintah harus lebih bijaksana lagi dalam menyikapi kepemilikan asing di perusahaan asuransi yang sudah terlanjur memiliki lebih dari 80 persen saham. Sehingga jika kepemilikan saham asing di perusahaan asuransi hendak dibatasi, sebaiknya hanya berlaku untuk akuisisi baru.
"Untuk yang mayoritasnya sudah dimiliki asing, paling tidak kasih kesempatan untuk mengurangi kepemilikannya hingga 10 tahun," katanya.
Hendrisman yang juga menjadi Direktur Utama Asuransi Jiwasraya mengaku sedang membentuk tim khusus untuk mengevaluasi rencana strategis ke depan. Perseroan mengkaji untuk melepas saham ke publik atau mencari cara lain untuk menambah modal.
"Kami sudah punya konsultan untuk mengkaji apakah IPO (penawaran saham perdana) lebih baik dibandingkan diakuisisi. Kemarin kan sempat beredar kabar kami akan diakuisisi BRI, itu masih dibahas oleh tim khusus," katanya. Hasil pembahasan tim kecil itu, menurutnya akan diputuskan akhir tahun ini. Sehingga, strategi penguatan modal Jiwasraya bisa segera ditentukan.