"Kasih saya waktu seminggu untuk mempelajari itu semua," ujar Arif dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Garuda City Center Cengkareng, Jumat (12/12).
Salah satu masalah yang menurut Arif terlihat dengan jelas adalah begitu banyaknya pengeluaran-pengeluaran perseroan yang tidak perlu dan tidak memberikan nilai tambah apapun bagi pendapatan Garuda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain penghematan biaya internal, Arif mengaku juga akan mempelajari ulang rencana Garuda mendatangkan pesawat baru yang dinilainya hanya akan menambah utang perusahaan, sampai mengevaluasi rute penerbangan yang dianggap tidak efisien.
Sayangnya, pertumbuhan pendapatan menjadi tidak berarti karena tergerus biaya operasional yang membengkak akibat pembelian avtur, sewa pesawat, dan lain-lain. Garuda pun tercatat mengalami krisis keuangan setelah masih mencatatkan kinerja yang buruk sampai September 2014. Maskapai full service tersebut mengalami rugi sebesar US$ 219,54 juta sekitar Rp 2,65 triliun, atau 1.362 persen lebih besar dibandingka kerugian sampai September 2013 sebesar US$ 15,01 juta.