Seperti dikutip dari Reuters, Bank Sentral Rusia sepanjang tahun ini telah menggelontorkan lebih dari US$80 miliar untuk menyelamatkan nilai tukar Rubel. Ketidakstabilan ekonomi Negeri Beruang Merah dinilai karena pengaruh anjloknya harga minyak dunia dan adanya sanksi negara-negara Barat atas krisis Ukraina.
Berbagai cara dilakukan bank sentral Rusia untuk menstabilkan rubel dan meringankan defisit dolar AS dan euro, salah satunya dengan memperluas pinjaman asing dan menawarkan bank-bank di Rusia mata uang asing dengan jangka waktu pinjaman 28 hari hingga satu tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonom berharap mata uang asing yang telah dipinjamkan bank sentral kepada perbankan di Rusia dapat dikembalikan ke bank sentral pada tahap berikutnya. Mereka berharap cadangan devisa bisa memulihkan beberapa kerugian dalam jangka menengah.