logo CNN Indonesia

Liputan Khusus

Fuad Bawazier: Dunia Berkonspirasi Menjatuhkan Pak Harto

, CNN Indonesia
Fuad Bawazier: Dunia Berkonspirasi Menjatuhkan Pak Harto
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengenang kejatuhan Soeharto pada 17 tahun silam, membuka kembali ingatan Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier akan situasi krisis finansial yang melanda Indonesia pada 1997-1998. Dolar Amerika Serikat (AS) yang awalnya stabil di kisaran Rp 2.400 pada 1997, dengan sangat cepat menembus Rp 15 ribu pada pertengahan 1998.

"Masyarakat termasuk pemerintah yang selama 30 tahun nyaman-nyaman saja, tiba-tiba dibuat kaget oleh rupiah yang anjlok luar biasa," ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu malam (20/5).

Kepanikan mulai terjadi. Harga-harga barang yang sebelumnya stabil, mulai bergerak naik akibat inflasi yang terjadi atas barang impor (imported inflation). Di sisi lain, utang pemerintah yang kala itu aman terkendali, tiba-tiba membengkak akibat harus menanggung beban utang swasta yang menggunung.

"Ada double mismacth, swasta utang terlalu banyak. Kemudian untuk proyek-proyek jangka panjang, mereka salahnya menarik utang bertenor pendek," jelas Fuad.

Upaya Bank Indonesia (BI) mengendalikan inflasi dan rupiah, justru dinilai Fuad memperparah kondisi karena salah strategi. Di satu sisi BI melakukan Intervensi dengan menggelontorkan dolar ke pasar namun pada saat yang bersamaan mencoba menyehatkan perbankan dengan memasok rupiah dalam jumlah besar melalui skema Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Seingat Fuad, total dana BLBI yang dipasok ke perbankan saat itu mencapai Rp 101 triliun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan miliaran dolar yang dikeluarkan dari cadangan devisa bank sentral. Alhasil dolar yang diguyur ke pasar dengan maksud meredam depresiasi tak efektif karena diserap lagi oleh perbankan menggunakan rupiah yang dipasok BI.

"Itu ibarat BI mengguyur bensin terus disulut api," kata Fuad.

Konspirasi

Di tengah kemelut keuangan yang melanda Indonesia pada 1997, International Monetary Fund (IMF) datang menawarkan bantuan dan solusi tanpa diundang. Berdasarkan pengakuan Fuad Bawazier, Presiden Soeharto ragu dan bahkan menolak tawaran IMF tersebut.

"Setelah dibantu meyakinkan oleh Bank Dunia tidak berhasil, IMF meminta dukungan dari pemimpin negara-negara maju untuk merayu Soeharto," kisah Fuad.

7 Januari 1998, Presiden AS Bill Clinton disusul Kanselir Jerman Helmut Kohl secara bergantian menghubungi Soeharto. Keduanya meminta Soeharto menerima bantuan dan saran yang ditawarkan IMF.

Ketika di Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamad secara tegas menolak tawaran IMF, Soeharto justru melunak dan menerimanya. Pada 15 Januari 1998, Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) yang disodorkan IMF. Alasannya sederhana, yakni demi menghormati Clinton dan Kohl.

"Saya akan mengikuti saran IMF selama enam bulan. Apabila tidak efektif, maka saya akan putuskan IMF dan saya jalan dengan cara sendiri," ujar Fuad meniru ucapan Soeharto kala itu.

Apa saja rekomendasi IMF? Fuad menjelaskan antara lain menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) hingga 75 persen, memangkas subsidi dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menghentikan sementara sebagian proyek-proyek pemerintah, serta menanggung beban utang yang ditumpuk oleh swasta.

"Pemerintah itu ibaratnya dijadikan keranjang sampah oleh IMF," ucap Fuad kesal.

Terbukti, lanjut Fuad, resep-resep yang disarankan IMF gagal mengobati kondisi kronis ekonomi nasional. Suku bunga yang naik signifikan berdampak pada melambatnya kinerja sektor riil. Sementara kenaikan harga BBM menggerus daya beli masyarakat. Kondisinya semakin parah ketika proyek pemerintah berhenti sehingga belanja pemerintah gagal menstimulus ekonomi.

"Jadi ekonomi yang tadinya terbakar oleh depresiasi kurs, bukannya dipadamkan malah diperbesar kobarannya. IMF itu bikin resep justru untuk mempercepat kejatuhan Soeharto," tutur Fuad.

Belum genap enam bulan, ekonomi Indonesia yang semakin sakit parah memicu gejolak sosial dan politik. Gerakan massa yang dibumbui politik memanas dan mendesak Soeharto untuk lengser keprabon. Akhirnya 21 Mei 1998, Soeharto memutuskan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua.

"Saya yakin ini konspirasi, ada kekuatan dari dalam dan luar negeri yang menginginkan Soeharto jatuh," ujar Fuad.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Mengingat Kembali Reformasi
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video