"Keselamatan itu tidak bisa ditawar karena keselamatan itu harus single standard. Standarnya itu tunggal, jadi bukan soal harga, ini keselamatan," ujar Jonan di Istana Kepresidenan, Rabu (2/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, Jepang dan China saat ini tengah bersaing memperebutkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Masing-masing mengajukan proposal penawaran dengan spesifikasi dan harga proyek yang berbeda.
Sementara China, pada Maret 2015 tiba-tiba memasukan penawaran, dengan nilai proyek sebesar US$ 5,5 miliar. Dengan harga proyek yang lebih murah dari Jepang, China bermimpi menghadirkan kereta berkecepatan 350 km per jam dalam jangka waktu hanya dua tahun (2016-2018).
Jepang dengan Shinkansen-nya sejauh ini telah terbukti sukses mengembangkan teknologi kereta cepat tanpa cacat. Sementara China, yang mengusung merek China Railway High speed pernah mencatatkan noda hitam ketika kereta buatanya menewaskan 40 penumpang di Wengzhou pada 23 Juli 2011.
Ketika ditanya lebih baik mana antara teknologi kereta cepat China dan Jepang, Menteri Jonan menolak untuk memilih karena tidak mau dianggap memihak salah satu calon investor. Dia lebih menyerahkan sepenuhnya pada hasil kajian konsultan independen yang telah dipilih pemerintah untuk menilai kedua proposal proyek yang diajukan China dan Jepang itu.
"Begini, setuju tidak setuju, kita nanti cek soal standar keselamatannya. Kalau standar keselamatannya oke, ya oke. kalau tidak ya tidak," kata Jonan menegaskan.
Soal pendanaan, Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini menegaskan tidak akan menggunakan uang negara untuk membiayai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Dengan demikian, swasta dimungkinkan untuk terlibat dalam mega proyek transportasi ini. Namun, dia tidak dapat memastikan kapan keputusan pemenang tender proyek tersebut keluar.