Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menilai Indonesia masih sangat tergantung pada ekspor komoditas sehingga menjadikan ekonomi nasional rentan kalah bersaing di era pasar bebas.
"Oleh karena, untuk mendukung peningkatan ekspor komoditas agar bisa go internasional perlu adanya dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah," katanya pada acara Seminar Kemandirian Ekonomi Indonesia Menuju Era Globalisasi di Pekalongan, Sabtu (9/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena, untuk menyeimbangkan neraca, maka Pemerintah Indonesia perlu memberikan stimulus guna mengompensasi modal masuk dan menarik investor," katanya.
"Dampak penurunan perekonomian Tiongkok sebesar 1 persen turun 0,11 persen relatif berpengaruh terhadap Indonesia karena implementasinya modal yang ada di Indonesia akan pulang kampung," katanya.
Ia berpendapat untuk mengantisipasi ketergantungan pada negara lain, Indonesia perlu mencontoh negara India yang mengalami proses politik hampir sama dengan Indonesia.
"Transisi kepemimpinan India hampir sama dengan Indonesia, yaitu melakukan stabilisasi perekonomian, stabilisasi harga yang semula mencapai 8 persen mampu ditekan menjadi enam persen. Hal ini, berpengaruh terhadap suku bunga," katanya.
Pada kesempatan itu, Enny mengingatkan pada pelaku bisnis untuk mengambil langkah strategis dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti peningktan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur, penyediaan modal, dan reformasi iklim investasi.
"Adapun hal yang perlu diantisipasi pada MEA, antara lain melebarnya defisit perdagangan seiring peningkatan perdagangan barang dan implementasi MEA akan mendorong masuknya investasi ke Indonesia dan luar Asean," katanya.