“Target (produksi) gula GKP sekitar 1,6 juta ton sedangkan kebutuhan GKP tahunan itu rata-rata tiga juta ton,” tutur Dolly Pulungan, Ketua Badan Pengarah AGI usai peresmian kantor baru AGI di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Senin (4/4).
Diretur Utama PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN) ini mengungkapkan selain mengandalkan produksi gula perusahaan pelat merah, kebutuhan gula pasir dalam negeri juga akan dipasok oleh perusahaan swasta sekitar satu juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Moga-moga dengan upaya itu, kami bisa meningkatkan produksi kami tahun ini menjadi 2 juta ton, dimaksimalkan,” ujar Dolly.
“Lahannya dari tanaman karet, hutan tanaman keras, dan lahan yang terawat,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengungkapkan tahun ini merupakan tahun yang berat bagi produksi gula karena berkurangnya ketersedian tebu.
“Pada 2015 lalu kan musim kemarau panjang ketika tebu ditebang, pertumbuhan vegetatifnya mengalami kendala. Musim kemarau panjang membuat pupuk tidak maksimal diberikan kepada tanaman sehingga pertumbuhan vegetatifnya terganggu,” ujar Arum.
Selain faktor alam, berkurangnya tanaman tebu juga disebabkan oleh keengganan petani untuk menanam tebu. Hal itu disebabkan oleh adanya keterbatasan biaya dan adanya risiko rugi dari harga gula yang fluktuatif. Selain itu, kebutuhan pupuk juga sempat sulit terpenuhi.
“Apabila ada keterbatasan biaya, pasti tanaman tidak terawat dengan baik. Kalau ingin swasembada gula yang berdaya saing itu tercapai, perluasan areal tebu itu bisa dicapa, maka cukupi biayanya. Itu tugas pemerintah. Kedua, beri pupuk tepat waktu kemudian perbaiki pabriknya,” ujarnya.
Sebagai informasi, saat ini total luasan lahan tebu nasional mencapai 475 ribu hektare dengan produktivitas sekitar 95 ton gula rendemen 10 per hektare per tahun. Adapun total produksi tebu dari perkebunan BUMN mencapai 12 juta ton tebu per bulan. (gen)