Direktur Bank Dunia Rodrigo Chavez mengungkapkan dengan kondisi saat ini, pemerintah membutuhkan waktu 50 tahun agar seluruh siswa di Indonesia mencapai rata-rata kompetensi siswa berdasarkan standar Organisasi Kerja Sama Negara Berkembang di dunia (OECD).
"Saya pikir Indonesia tidak bisa dan tidak mau untuk menunggu selama itu," tutur Chavez dalam Konferensi Pendidikan Internasional 'Belajar untuk Semua: Prinsip Bersama untuk Pemerataan Sistem Pendidikan Dasar yang Kuat' di Hotel Mulia, Selasa (21/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sistem pendidikan yang kuat dapat membantu meningkatkan keunggulan kompetitif dan memberikan setiap warga Indonesia kesempatan yang sama untuk mencapai potensi mereka, sehingga bisa tampil sebagai warga negara global yang trampil dan berpendidikan tinggi," ujarnya.
“Kan memang paling utama gurunya dulu dong. Kalau gurunya memble, muridnya memble,” jelas Mardiasmo usia menghadiri
Mardiasmo menyadari saat ini kualitas pendidikan masih belum merata di Indonesia. Daerah-daerah terpencil menghadapi tantangan untuk mendatangkan guru dibandingkan daerah perkotaan. Karenanya, pemerintah memberikan tunjangan kemahalan dan kesejahteraan bagi guru daerah terpencil.
“Sudah mutu tak bagus, banyak guru hanya mau berkumpul di kota besar. Hanya sedikit yang di daerah terpencil,” ujarnya.
Sebagai catatan, anggaran pendidikan tahun ini dipatok sebesar Rp416,1 triliun atau 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Anggaran itu mencakup anggaran rehabilitasi 81.879 ruang kelas di seluruh Indoenesia, tunjangan profesi guru, dan bantuan operasional sekolah kepada hampir 54,7 juta siswa.