logo CNN Indonesia

S&P Akhirnya Kerek 'Rating' Indonesia Jadi Layak Investasi

, CNN Indonesia
S&P Akhirnya Kerek 'Rating' Indonesia Jadi Layak Investasi
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings mengerek peringkat utang luar negeri jangka panjang Indonesia menjadi 'BBB-' dari 'BB ' atau layak investasi. Sementara outlook yang disematkan adalah stabil.

S&P juga menaikkan peringkat utang luar negeri jangka pendek Indonesia menjadi 'A-3' dari 'B' dan peringkat jangka panjang regional ASEAN di 'axA-' dari 'AxBBB '. Selain itu, S&P menegaskan peringkat skala regional ASEAN jangka pendek di level 'axA-2'.

Analis Utama S&P KimEng Tan mengatakan, jajarannya menaikkan peringkat berdasarkan penilaian terhadap penurunan risiko metrik fiskal Indonesia.

"Kami percaya bahwa peningkatan fokus pemerintah pada penganggaran yang realistis telah mengurangi kemungkinan bahwa kekurangan pendapatan di masa depan akan memperlebar defisit pemerintah secara signifikan melampaui apa yang diharapkan sekarang," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/5).

Hal ini juga mengurangi risiko rasio utang pemerintah bersih dan beban pembayaran utang. Sebagai gantinya, S&P mengantisipasi bahwa utang bersih akan tetap pada tingkat moderat di bawah 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

KimEng menyatakan, menambah penerimaan dari sistem perpajakan Indonesia telah menjadi tantangan struktural yang dihadapi pemerintah Indonesia secara berurutan. Rasio pendapatan pemerintah secara umum terhadap PDB di Indonesia adalah yang terendah kedua dari semua 67 negara layak investasi, dan hanya lebih tinggi daripada Emirat Sharjah.

"Hal ini menyebabkan beban bunga tinggi sebagai bagian dari pendapatan, terlepas dari utang pemerintah Indonesia yang relatif rendah," katanya.

Sementara karena harga komoditas yang lemah, penerimaan pajak telah jauh di bawah proyeksi anggaran awal setidaknya selama tiga tahun terakhir. Ini membuat pemerintah harus memotong pengeluarannya ke bagian akhir tahun fiskal untuk menjaga defisit anggaran dalam batas legal 3 persen dari PDB.

"Pada saat yang sama, kami memprediksi penerimaan negara yang lebih baik, hasil dari amnesti pajak yang baru saja ditutup. Kami juga memperkirakan peningkatan kontrol atas pengeluaran fiskal dengan reformasi subsidi diperluas ke subsidi listrik mulai 2017," jelasnya.

Ia menambahkan, bersama dengan fokus yang lebih besar pada penganggaran yang realistis, S&P percaya bahwa ini akan terdapat risiko yang menyebabkan defisit fiskal lebih besar daripada yang saat ini diproyeksikan.

"Terlepas dari kerentanan ekonomi yang lebih luas terhadap goncangan eksternal, kami menganggap keuangan publik yang kuat merupakan landasan peringkat investment grade kami di Indonesia," kata KimEng.

Tak hanya itu, ia juga meramalkan rasio utang pemerintah secara umum stabil selama beberapa tahun ke depan, yang mencerminkan perkiraan saldo fiskal yang relatif stabil.

Dalam beberapa tahun terakhir, utang pemerintah secara umum telah meningkat secara signifikan melebihi besarnya defisit anggaran. Dalam lima tahun sampai 2016, misalnya, kenaikan rata-rata adalah 3,2 persen dari PDB per tahun.

Hal itu disebabkan oleh dampak depresiasi rupiah Indonesia selama periode ini terhadap besarnya utang valuta asing pemerintah yang diukur dalam mata uang lokal.

"Lebih dari 40 persen utang pemerintah didenominasi dalam mata uang asing pada akhir 2016. Kami memperkirakan perubahan utang pemerintah menjadi lebih sesuai dengan defisit fiskal selama beberapa tahun ke depan, mengingat prospek kami yang relatif stabil untuk nilai tukar rupiah," jelas KimEng.

Prospek Pemeringkatan

KimEng menjelaskan, prospek yang stabil mencerminkan pandangan bahwa kebijakan dan kondisi ekonomi akan menjaga metrik eksternal dan fiskal yang mendekati level saat ini selama satu hingga dua tahun ke depan.

"Kami bisa menaikkan peringkat jangka panjang jika neraca eksternal dan fiskal secara signifikan mengungguli ekspektasi kami saat ini," jelasnya.

Sebaliknya, tekanan penurunan pada peringkat dapat muncul jika S&P memperkirakan neraca perdagangan dan fiskal selama tiga sampai lima tahun berikutnya menjadi jauh lebih buruk daripada proyeksi saat ini.

"Indikasi tekanan pada pemeringkatan tersebut adalah utang pemerintah dan defisit anggaran yang masing-masing melampaui 30 persen dan 3 persen dari PDB secara berkelanjutan, atau likuiditas eksternal yang secara konsisten melampaui 100 persen, yang dapat dipicu oleh hal negatif lain dari kejutan kinerja dagang," ungkap KimEng.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video