Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi yang berkaitan dengan rekreasi dan budaya melonjak ke level 6,5 persen hingga akhir tahun. Angka ini jauh lebih cepat ketimbang pertumbuhan konsumsi masyarakat di dalam komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya 4,95 persen di periode yang sama.
Deputi bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan, peningkatan aktivitas leisure ini didorong dari sisi permintaan maupun penawaran.
Dari sisi permintaan, ia menduga bahwa masyarakat makin butuh piknik seiring tekanan pekerjaan yang tinggi. Selain itu, fenomena meningkatnya tabungan masyarakat pun bisa jadi nantinya digunakan untuk melancong di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dari sisi penawaran, makin maraknya promosi dan paket wisata yang murah makin membuat masyarakat untuk pergi jalan-jalan. Kedua faktor ini, lanjut Sri, menggeser pola gaya hidup masyarakat sangat bombastis.
“Sejauh ini, konsumsi untuk barang-barang terbilang selalu stagnan. Tapi kalau melihat aktivitas leisure, angkanya cukup signifikan,” ujar Sri.
Melihat tren yang masih akan berlanjut di tahun ini, ia berharap pemerintah memberikan paket kebijakan yang bisa mempermudah wisatawan dalam negeri untuk melakukan rekreasi. “Bisa apapun itu bentuknya, mumpung dari supply (pasokan) dan demand (permintaan) ada dorongan masing-masing,” jelas Sri.
Menurut data BPS, pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel sepanjang tahun 2017 ini tercatat di angka 5,53 persen atau tumbuh dibanding tahun sebelumnya yakni 5,40 persen. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pakaian dan alas kaki turun dari 3,29 persen ke angka 3,1 persen, dan pertumbuhan konsumsi perlengkapan rumah tangga turun dari 4,6 persen pada tahun lalu ke angka 4,26 persen. (lav/bir)