Tapi, selalu ada cara untuk mengatasi rasa duka. Salah satunya dilakukan oleh seorang warga kota Otsuchi, kawasan pesisir yang juga terkena dampak paling parah dari bencana alam itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Telepon itu memang sudah tak berfungsi, apalagi untuk melakukan panggilan lintas dunia untuk berbicara dengan kerabat yang meninggal dalam bencana.
Tapi, banyak yang datang, mengangkat gagang telepon, dan seakan melakukan pembicaraan dengan kerabatnya sebelum meninggal.
Telepon umum itu kedap suara, jadi hanya akan terlihat pengguna yang sedang menelepon sambil bercucuran air mata.
Awalnya, Sasaki membangun telepon umum itu sebagai pelampiasan kesedihannya, sepeninggal sang keponakan.
“Saya tak bisa menyampikan keluh kesah atas kesedihan saya melalui sambungan telepon biasa. Jadi, saya memutuskan untuk menyampaikannya melalui angin,” kata Sasaki.
Tiga tahun setelah didirikan, banyak pengunjung dari luar Otsuchi. Tercatat, sudah lebih dari 10 ribu orang yang datang.
Selain untuk melampiaskan kesedihan, banyak orang yang datang untuk merayakan hal yang istimewa bersama orang tercintanya.
Otsuchi merupakan salah satu kota yang rusak parah diterjang gempa bumi dan tsunami. Sekita 10 persen populasinya meninggal dunia dalam bencana alam itu.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, Otsuchi bisa didatangi dengan kereta atau tujuh jam perjalanan kendaraan pribadi.
[Gambas:Youtube]
(ard)