logo CNN Indonesia

Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Dorong Vaksinasi Nasional

, CNN Indonesia
Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Dorong Vaksinasi Nasional Kanker serviks yang dialami artis Julia Perez dapat menjadi salah satu pertimbangan pentingnya pencegahan kanker sejak dini, dan kesadaran akan vaksinasi. (Ilustrasi/Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengidap kanker serviks stadium empat membuat kondisi tubuh artis Julia Perez terus mengalami penurunan. Sejak dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, penyanyi dangdut itu juga telah menjalani sejumlah pengobatan untuk melawan kanker yang ia derita. 

Kanker serviks atau kanker leher rahim yang diderita Jupe, demikian ia biasa disapa, termasuk salah satu jenis kanker yang berbahaya, dan dikabarkan menempati urutan ke-dua yang menyerang perempuan Indonesia setelah kanker payudara.

Mengingat pentingnya pencegahan kanker serviks, Kementerian Kesehatan RI tengah berupaya untuk merencanakan imunisasi vaksin Human Papilomavirus (HPV) ke dalam program imunisasi nasional. Namun, hal tersebut masih tersendat pada anggaran yang dibutuhkan untuk pembelian vaksin.

"Kami memang merencanakan untuk membuatnya jadi program nasional supaya tidak terbatas di provinsi tertentu saja, tapi masalahnya vaksin itu masih impor dan cukup mahal sehingga kami akan ajukan ke DPR, karena ini masuk masalah anggaran," ungkap Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan, saat dihubungi CNNIndonesia.com, di Jakarta, pada Senin (17/4).

Pengajuan anggaran tersebut disertai sejumlah data pendukung. Jane mengatakan, ada dua provinsi yang jadi percontohan pemberian vaksin HPV yang dijadikan acuan data kepada DPR. Kedua provinsi itu adalah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Meski demikian, Jane mengatakan, tidak menutup kemungkinan anggota DPR akan langsung memutuskan pentingnya vaksin HPV dari contoh kasus kanker serviks yang dialami Jupe. Hal itu untuk membantu perempuan lainnya di Indonesia agar tercegah dari kanker serviks sejak dini.

"Tapi, kalau dari DPR melihat kasus Jupe sekarang, dan tidak akan menunggu untuk program imunisasi tersebut, bisa saja. Nanti dari DPR akan ke Kementerian Keuangan," tuturnya.

Yang terpenting, kata Jane, bagaimana cara supaya pembelian vaksin tersebut tidak putus di tengah jalan lantaran anggaran habis.

Tidak ditanggung BPJS

Hingga saat ini, pemberian vaksin untuk mencegah kanker serviks belum ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Jane mengatakan masyarakat harus secara mandiri membayar imunisasi yang terbilang mahal itu, dan tidak menyebutkan berapa dana yang harus dikeluarkan. Mahalnya biaya vaksin, yang ditengarai mencapai jutaan, membuat upaya vaksin HPV tidak banyak dilakukan.

Namun, Jane berharap, BPJS mau membantu meringankan beban masyarakat untuk biaya vaksin. "BPJS tidak menanggung vaksin, dia hanya mengobati yang sudah sakit. Tapi, kami berharap BPJS dapat menanggung dan menjadi seperti syarat penting untuk masyarakat supaya dapat wajib vaksin HPV," tuturnya.

Vaksin HPV diberikan kepada perempuan berusia 9-13 tahun untuk tahap satu dan dua. Tidak menutup kemungkinan vaksin ini diterima juga oleh masyarakat yang berusia hingga 40 tahun. Jane mengatakan, efektifnya vaksin HPV diterima oleh perempuan yang belum pernah berhubungan seksual. Hal itu untuk mencegah masuknya virus dari hubungan seksual tersebut.

"Sudah ada penelitian, yang efektif itu (vaksin HPV) diberikan kepada mereka yang belum berhubungan, kalau sudah berhubungan bisa jadi ada virus yang terbawa," ucapnya.

Untuk selanjutnya, pencegahan dapat dilakukan dengan pap smear. Namun, perempuan harus rutin melakukan pemeriksaan tersebut agar tidak terserang virus. (rah)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Mewaspadai Bahaya Kanker Serviks
0 Komentar