logo CNN Indonesia

Lancong Semalam

Banyuwangi yang Bikin Ingin Kembali

Ardita Mustafa , CNN Indonesia
Minggu, 18/06/2017 18:12 WIB
Pelabuhan Muncar di Banyuwangi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
“Kunjungi Banyuwangi, Anda pasti ingin kembali.” Begitulah semboyan yang saya baca saat melihat situs Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pertama kali membacanya, saya agak ragu, karena merasa kalau baru Bali dan Yogyakarta yang membuat saya ingin kembali. 

Ada dua alasan utama yang membuat saya ingin kembali ke sebuah daerah wisata. Pertama, sudah pasti keindahan objek wisatanya. Kedua, ketersediaan fasilitas dan layanan bersantai yang menunjang. Intinya, untuk apa kembali berwisata ke tempat yang indah bak lukisan, jika sampai di sana saya malah tidak bisa bersantai?


Keyakinan saya untuk berkunjung ke Banyuwangi juga karena tahu kalau daerah paling timur di Pulau Jawa ini merupakan tempat lahir Menteri Pariwisata Arief Yahya, sosok yang selama ini dikenal sangat bersemangat meningkatkan kualitas wisata suatu daerah. Jika yang lain kualitasnya ditingkatkan, sudah pasti ia menerapkan yang terbaik untuk kampung halamannya. 

Jadilah saya mengunjungi Banyuwangi pada akhir pekan kemarin. Terbang dari Jakarta selama satu jam, pesawat saya akan transit di Surabaya selama satu jam, lalu terbang ke Banyuwangi selama satu jam. Agak merepotkan memang. Tapi, setelah 16 Juni 2017, wisatawan yang berencana datang sudah bisa menikmati penerbangan langsung dari Jakarta ke Banyuwangi tanpa transit di Surabaya.

Banyuwangi yang Bikin Ingin KembaliBandara Blimbingsari Banyuwangi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Selain mendarat di Bandara Blimbingsari Banyuwangi, dari Jakarta wisatawan juga bisa datang melalui Stasiun Banyuwangi Baru (perjalanan delapan jam) atau Pelabuhan Ketapang (perjalanan 45 menit). Bagi yang menggunakan kereta api bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus khawatir melewatkan stasiun untuk turun. Karena Stasiun Banyuwangi Baru merupakan stasiun paling akhir di Pulau Jawa. 

Dari atas pesawat, keindahan alam Banyuwangi sudah terlihat. Pantai berair biru kehijauan dengan pasir putih bersanding dengan rimbunnya hijau pepohonan. Pulau-pulau di ujung Indonesia memang selalu diberkahi kondisi alam yang demikian.

Sesampainya di Bandara Blimbingsari Banyuwangi, jangan kaget kalau bangunan bandara sangat kecil dan sederhana, mirip minimarket. Hanya ada satu belt bagasi yang digunakan untuk mengantar koper penumpang. Peluh pun bercucuran karena harus berdesakan bersama penumpang lain di dalam ruangan. Setelah keluar bandara, terlihat bangunan bandara yang baru akan segera beroperasi. 

Banyuwangi yang Bikin Ingin KembaliBangunan baru bandara yang masih dibangun dengan konsep ramah lingkungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Dalam hati hanya bisa tertawa, sepertinya saya salah tanggal untuk datang ke Banyuwangi, karena belum sempat merasakan penerbangan langsung maupun bandara baru. 

Dari bandara, saya dijemput oleh pemandu dan supir dari situs perjalanan wisata www.lovelybanyuwangi, Kisma dan Oni. Dengan ramah mereka menyapa dan langsung memberikan berbagai informasi terkait wisata di Banyuwangi.

Banyuwangi disebut juga Bumi Blambangan, karena jejak Kerajaan Hindu Blambangan yang pernah ada. Seluas 5,7 juta kilometer persegi dengan penduduk 2,1 juta orang, kota yang dipimpin oleh Bupati Abdullah Azwar Anas ini bisa dibilang majemuk.

Seluruh ras dan agama hidup dengan rukun di sini, bahkan memiliki kampung-kampung sendiri. Suku Osing merupakan suku asli yang tinggal di Desa Kemiren. Jadi bahasa Osing yang masih sering digunakan, selain bahasa Jawa, Indonesia dan daerah lainnya. 

Banyuwangi yang Bikin Ingin KembaliSuku Osing di Desa Kemiren. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Agama Islam menjadi agama mayoritas, selain Hindu, Kristen dan lainnya. Penduduk Banyuwangi sudah terbuka menerima kedatangan wisatawan, terbukti dengan mereka yang selalu memberikan senyum ketika bertatapan muka.

Berbeda dengan Surabaya dan Bali, dua kota yang mengapit, suhu udara di Banyuwangi bisa dibilang lebih teduh. 

Selain becak atau ojek, ada dua jenis angkutan umum yang sering bisa digunakan, yaitu Angkot Kuning dan Angkot Biru. Kalau ingin lebih nyaman bisa menggunakan mobil sewa, dengan tarif mulai dari Rp500 ribu per hari berikut supir. 

Ada banyak pilihan tempat penginapan di Banyuwangi, mulai dari homestay sampai hotel bintang lima. Saya memilih untuk menginap di Hotel Ketapang Indah, karena suasananya asri dan menenangkan. Tarif per malamnya mulai dari Rp500 ribu. 

Banyuwangi yang Bikin Ingin KembaliSuasana asri Hotel Ketapang Indah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Saya menghabiskan waktu lima hari di Banyuwangi, karena begitu banyak pilihan objek wisata yang ingin dikunjungi. Tapi, bagi yang hanya ingin mampir, tetap bisa merasakan suasana wisata dalam sehari.

Bersambung ke halaman berikutnya...

(ard)

NEXT:
Matahari Terbit dari Ikon Banyuwangi
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Wisata ‘Cap Halal’ Banyuwangi
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video