SAS meninggal setelah dirawat selama dua minggu di rumah sakit. "Hari Minggu (8/3) waktu ada acara, dia sudah mengeluh tidak enak badan," ujar Gema saat dihubungi CNN Indonesia pagi ini. Sehari kemudian, SAS terjatuh di kamarnya.
Ia langsung dilarikan ke rumah sakit pada Senin (9/3) dan masuk Unit Gawat Darurat. "Tulang pinggul kanannya patah," ujar Gema bercerita. Selama dua minggu dirawat, kondisi SAS naik turun. HB-nya sempat drop. Seharusnya hari ini SAS dioperasi. Namun, kondisinya memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Galang dana untuk operasi
Selama dua minggu, Gema mengaku sudah mengumpulkan uang sebanyak Rp 33 juta. "Itu dari sumbangan. Dari keluarga juga ada, jadi semua terkumpul Rp 50 juta," ujarnya menyebutkan. Jumlah itu sebenarnya masih kurang untuk membiayai operasi dan rumah sakit SAS.
"Untuk operasi saja butuh Rp 79,5 juta. Total dengan biaya rumah sakit Rp 110 juta," katanya.
SAS seorang komponis Indonesia berpengaruh. Pria kelahiran Surabaya, 30 Juni 1935 itu disebut sebagai pionir musik kontemporer Indonesia. Karyanya bukan hanya dinikmati di dalam negeri, tetapi juga menembus Eropa. SAS pernah mengenyam pendidikan musik di Perancis bersama Olivier Messiaen dan Henri Dutilleux.
Beberapa karya SAS yang ternama adalah Ketut Candu, String Quartet I, Silence, Point Core, Jakarta 450 Tahun, dan Daun Pulus. Musisi Gilang Ramadhan, Franki Raden, dan Soe Tjen Marching pernah menimba ilmu musik pada SAS.
(rsa/rsa)