Merespon hal tersebut dan dalam rangka merayakan ulang tahun ke-50 IKJ, diadakan diskusi bertajuk "Produksi Film Naik, Penonton Film Turun. Kenapa?" di Ruang Sjuman, IKJ, Cikini pada Jumat (26/6).
Narasumber dari berbagai unsur perfilman, mulai dari peserta pameran, produser, Badan Perfilman Indonesia dan akademisi mencoba memaparkan mengapa kondisi ini terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah saya pelajari, yang penting adalah kualitas, karena orang nonton itu pakai uang tambahan. Film adalah alternatif tontonan. Bahkan sekarang Netflix sudah jadi ancaman. Belum lagi ancaman pembajakan. Omong kosong ketika film bagus enggak ada yang nonton," kata Kemala.
Menurutnya kini film berbasis novel menjadi acuan bagi film untuk sukses, karena mereka sudah memiliki pembaca. "Kami harus ikuti itu. Jadikan target penonton yang tepat supaya industri bisa bergairah lagi. Saya sekarang ingin coba tembus market Malaysia dan Singapura karena keuntungan di Indonesia tidak bisa diharapkan lagi,” kata Ody.
Dalam presentasinya Ody juga menjabarkan angka penonton film nasional sempat terjun bebas setelah embargo blockbuster tahun 2011.
"2011 tak ada film blockbuster, animo penonton mati untuk menonton ke bioskop. Padahal sejak 2011 beberapa film Indonesia bisa kalahkan beberapa blockbuster. Terlalu banyak film nasional yang tayang di bioskop dengan produksi asal-asalan. Merusak kepercayaan penonton terhadap film Indonesia," jelas Ody.
Dari perspektif eksibitor film, Rudi Anitio menyampaikan bahwa beberapa produser menyalahgunakan kondisi rilis teater yang minim biaya.
Menurutnya hiburan bioskop kini memiliki subtitusi yang variatif, Anitio berpendapat bahwa masyarakat kecewa dengan kualitas film nasional. Dia juga berpesan para produser agar dapat mengeksploitasi film mereka dengan efisien dan tak menggantungkan keuntungan semata di rilis teater.
"Biaya produksi dan merilis sekarang sudah murah. Hampir enggak ada release cost. Produser untung walau penonton turun, ini problema dalam 3 tahun terakhir ini. Ada beberapa yang abuse kondisi ini, setelah melihat penonton rendah. Mereka berpikir untuk membuat film dengan bujet serendahnya karena lebih mudah untung.”
Sementara itu menurut Marceli Sumarno, pengamat dan kritikus film sekaligus dosen IKJ, ada empat pertanyaan yang harus dijawab.
Pertama, apakah bioskop bisa melayani semu kalangan dan mencapai pelosok? Apakah film menimbulkan ruang imajinasi? Apakah ada tafsiran baru terhadap realitas? apakah para pembuat film mengenal penonton kita?
Marceli kemudian memaparkan pendapatnya terhadap empat poin tersebut. "Pandai-pandailah orang film untuk membikin orang datang. Imajinasi menolong kita untuk mengenal hidup dan memecahkan masalah kehidupan. Seorang pembuat film bisa melakukan interpretasi akan suatu hal."
“Contohnya Hollywood, mereka itu pintar, masalah tidak diselesaikan tapi disodorkan kepada penonton. Tafsir lahir dari budaya. Zaman bergerak dan kebudayaan juga, asal kita bisa menarik tafsir yang tepat,” kata Marceli menjelaskan