logo CNN Indonesia

Filosofi Kepopuleran dalam Filosofi Kopi

, CNN Indonesia
Filosofi Kepopuleran dalam Filosofi Kopi Chicco Jerikho (CNNIndonesia/Rahmi Suci)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meledaknya Filosofi Kopi ketika dirilis, beberapa waktu lalu, membuat film yang dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Rio Dewanto ini masih hangat untuk dibicarakan, apalagi setelah benar terwujud replika kedai kopinya.

Kondisi tersebut sesuai keinginan Handoko Hendroyono, selaku produser Filosifi Kopi. Ketika ditemui CNN Indonesia di PopCon Asia 2015 di Jakarta Convention Centre, Senayan, kemarin (7/8), Handoko mengungkapkan faktor keberhasilan Filosofi Kopi atau Filkop.

"Memang ada pengaruh dari keterlibatan penonton secara langung. Untuk jumlah penonton memang kurang dari harapan kami, tetapi bicara keterikatan dan perbincangan, sampai sekarang yang bicarakan Filkop tidak turun-turun. Itu juga salah satu alasan dibuat sekuelnya," kata Handoko.

Handoko mencontohkan banyaknya unggahan dan perbincangan mengenai Kedai Kopi Filkop di media sosial Instagram. Sejak dibukanya kedai imajinasi menjadi kenyataan, ramai-ramai kawula muda metropolitan mengunjungi tempat minum kopi yang berlokasi di Jalan Melawai 6, kemudian mengunggahnya di media sosial.

Resep terus digunjingkannya Filkop dalam media sosial, juga pamor yang masih hangat itu, karena faktor rasa memiliki yang diakui Handoko dimiliki oleh para penggemar Filkop. Para penggemar dengan bebas memberikan masukan untuk film yang mereka senangi.

Teknik yang disebut user-rated itu pun diterapkan kembali oleh Handoko untuk sekuel Filosofi Kopi, Ben & Jody. Meski memiliki tokoh utama yang sama, namun dapat dikatakan sekuel kisah penjual kopi ini akan menjadi sangat berbeda bila dibandingkan Filosofi Kopi sebelumnya.

Handoko kali ini bermain 'nekat' dengan membebaskan para penggemar Filosofi Kopi memberikan imajinasi mereka sebagai cerita untuk film sekuel ini. Secara jujur, Handoko dan tim mengatakan tidak memiliki gambaran apapun mengenai film sekuel ini dan sepenuhnya menyerahkan kepada penggemar.

"Ini memang kebalikan dengan produksi film pada umumnya, namun kami memiliki standar yang akan terus digunakan dalam film Filosofi Kopi, yaitu Dewi Lestari, Glenn Fredly, Chicco Jerikho, Rio Dewanto, dan juga Angga Sasongko," kata Handoko.

Film Filosofi Kopi dikembangkan tak sebatas sekuel, juga kedai kopi dan waralaba lain. (CNNIndonesia Rights Free/Dok. Visinema)
Obsesi dan 'Sihir' Dewi Lestari

Penulis asli Filosofi Kopi, Dewi "Dee" Lestari dipastikan Handoko akan tetap bergabung menjadi tameng dari kisah persahabatan Jody dan Ben dalam meracik kopi. Dee bertugas untuk menyaring dan mengawasi ide cerita yang masuk dari berbagai peggemar Filosofi Kopi.

"Ada semacam komitmen dengan Dee, ia sangat tertarik dengan proyek ini. Filkop menjadi film gubahan dari novelnya yang paling ia suka, dan dari situ ia sangat antusias," kata Handoko. "Dewi Lestari sudah sangat gatel untuk bikin proyek ini, semuanya antusias,"

Meski bermain "nekat" dengan menyerahkan ide kepada para penggemar, Handoko tetap menggunakan ide brilian Dewi Lestari untuk menyihir kisah yang dapat memukau penonton nantinya.

Bukan hanya kekuatan magis Dewi Lestari, Angga Sasongko, juga Glenn Fredly yang akan menjadi regu pahlawan bagi Filosofi Kopi. Handoko mengaku sekuel ini akan berdasarkan pada pengalaman langsung yang dirasakan oleh semua yang terlibat dari Filosofi Kopi, termasuk kekerabatan Ben dan Jody.

Saat jumpa penggemar di PopCon Asia 2015, Handoko mengungkapkan bahwa Filosofi Kopi memenangkan sebuah penghargaan di festival film di Manila. Dalam festival tersebut Filosofi Kopi mendapatkan penghargaan Best Ansamble Performance atas kekompakan Rio dan Chicco menjadi Jody dan Ben.

Kualitas dari para standar yang dimiliki oleh Filosofi Kopi itulah yang akan tetap menjadi perhatian Handoko untuk terus mengembangkan intellectual property dari Filosofi Kopi. Bukan hanya berbentuk film sekuel-sekuel berikutnya, namun dapat berupa hal yang lain, mulai dari aksesori, games, hingga kedai-kedai baru.

"Sekuel itu bukan berarti mengais-ngais kesuksesan film sebelumnya, tapi bagaimana membuat lagi sesuatu yang lebih bagus ketimbang invest lagi dengan konten yang baru. Meski kontennya sudah ada, kita harus dapat membuatnya lebih baru atau lebih bagus. Ini yang terjadi pada film waralaba Hollywood, mengapa sekuelnya tetap bagus," kata Handoko.

[Gambas:Youtube]

(end/vga)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Parade Kreativitas PopCon Asia 2015
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video