logo CNN Indonesia

Teknik Animator Indonesia Tak Kalah dengan Hollywood

, CNN Indonesia
Teknik Animator Indonesia Tak Kalah dengan Hollywood Suasana pameran Popcon Asia 2015, di Jakarta Convention Center (7/8). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa tahun terakhir, publik Indonesia dibuat kagum atas karya beberapa animator asal Indonesia yang terlibat pembuatan animasi blockbuster Hollywood.

Beberapa di antaranya adalah Rini Sugiarto yang turut menggarap The Adventures of Tintin (2011) serta Andre Surya dalam Iron Man dan Transformers: Revenge of the Fallen.

Kiprah mereka tak ubahnya fenomena puncak gunung es, di mana hanya bongkah kecil di atas permukaan air saja yang terlihat. Padahal di bawah  air, ada bongkah yang jauh lebih besar: animator andal Indonesia menyebar di mana-mana, tapi karyanya tak diketahui publik.

"Secara kemampuan teknis, animator Indonesia sudah banyak banget yang jago. Banyak animator Indonesia yang mengerjakan buat orang luar, kaya Tintin, Transformers, juga Marvel," kata Ario Anindito, komikus juga animator kepada CNN Indonesia ketika ditemui di acara PopCon Asia 2015 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, kemarin (7/8).

Lalu, apa yang menyebabkan karya mereka tak mengemuka? Jawabannya adalah: modal. Ada kalanya finansial dinilai sebagai kendala animasi lokal untuk berkembang dan menunjukkan kehebatannya.

Beberapa animasi lokal yang sanggup tampil di muka publik, seperti Adit dan Sopo Jarwo, Battle of Surabaya, juga Valentine, membutuhkan dana yang tidak sedikit hingga akhirnya dapat tampil baik di layar kaca ataupun layar lebar.

Animasi membutuhkan biaya lebih besar lagi dibandingkan komik. Bila komik sampai pada tataran cetak ataupun visual tak-bergerak, animasi membutuhkan tambahan rekonstruksi karikatur tersebut hingga terlihat dapat bergerak. Dengan kebutuhan besar seperti itu, wajar bila rata-rata film animasi Hollywood membutuhkan budget kisaran US$100 juta.

Dengan modal yang cukup dan didukung kemahiran teknis para animator, Ario yang juga tengah menggarap komik pesanan Marvel ini menilai pasar akan sangat menerima animasi hasil anak bangsa.

Kejadian ini mirip dengan meledaknya film The Raid setelah seorang sutradara Hollywood membuktikan Indonesia mampu membuat film sekaliber buatan Negeri Paman Sam dengan tokoh lokal.

Namun mendatangkan investor tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dengan menggunakan acara konvensi macam PopCon Asia pun belum temtu memastikan para anjmator dapat segera menemukan investor. Apalagi dengan investor yang masih "bersembunyi" di balik meja gambarnya.

"Memang dari diri animatornya sendiri yang harus aktif. Untuk menjadi seperti Amerika Serikat dan Jepang, butuh proses yang panjang," kata Ario. "Beberapa animator memang kurang di media sosial, maka harapannya ada pada penggemarnya,"

Peran penggemar animasi lokal menjadi penting bagi karakter lokal yang belum terkenal namun memiliki kualitas baik. Dengan kemudahan dan canggihnya teknologi serta media sosial, bukan mustahil bahwa penggemar dapat menjadi publicist bagi sang animator.

Unggahan dan promosi dalam media sosial menjadikan peluang karya tersebut ditemukan investor menjadi lebih besar. Memang ibarat melakukan kencan buta, butuh perjuangan dan kesabaran menanti investor yang telah ditakdirkan bagi sang animator.

"Publik Indonesia masih senang dengan animasi, apa pun genre-nya, asal ceritanya bagus pasti ada penontonnya," kata Ario.

Cerita yang baik dan bagus memang menjadi tantangan berikutnya bagi dunia animasi Indonesia. Cerita yang bagus memang tidak memiliki patokan tertentu dan bersifat subjektif. Namun kisah yang bagus dapat dilihat dari kemampuannya untuk membawa penonton hanyut dan menikmati kisah yang disajikan.

Kisah yang bagus bukan hanya tantangan dunia animasi, tetapi juga dunia perfilman Indonesia yang masih berjuang untuk tetap hidup dan tak lagi mati suri.


(end/vga)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Parade Kreativitas PopCon Asia 2015
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video