logo CNN Indonesia

Kebutuhan Komik Lokal untuk Jadi Global

, CNN Indonesia
Kebutuhan Komik Lokal untuk Jadi Global Komikus di stand Popcon Asia 2015 di Jakarta Convention Center (7/8). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebanyakan masyarakat Indonesia mengidentikkan komik dengan buatan Jepang ataupun Amerika Serikat, seperti Doraemon ataupun karya Marvel serta DC.

Namun di PopCon Asia yang sedang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Senayan sejak kemarin (7/) hingga esok (9/8), ribuan karya komik lokal unjuk gigi. Jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dengan penuh percaya diri, komik buatan anak negeri bersanding dengan berbagai karya komik lain dari beragam negara Asia, seperti Korea Selatan dan Jepang. Lalu, mengapa komik Indonesia rasanya belum setenar asal negara-negara Asia Timur itu?

"Komikus lokal itu butuh sponsor, duit," kata Franki Indrasmoro, komikus yang juga drummer Naif sembari tertawa kepada CNN Indonesia, saat ditemui di acara PopCon Asia 2015 (7/8). "Untuk melakukan hal yang sifatnya masif, butuh dukungan yang masif juga."

Alasan yang diutarakan Pepeng, sapaan akrab Franki, dapat dikatakan masuk akal. Goresan pensil para komikus ini memang sewajarnya membutuhkan dana yang cukup besar guna mempublikasi dan merilis karya mereka, bukan hanya sebagai sketsa, tetapi sudah dalam bentuk buku yang memiliki cerita.

Saat ini memang beberapa komikus memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan karya mereka kepada khalayak. Dari aksi "narsis" tersebut, sedikit demi sedikit para penggemar pun didapatkan dan karya mereka punya massanya sendiri.

Namun tak sedikit komikus yang lebih memilih untuk "rendah hati" tak menunjukkan karya mereka yang mengagumkan. Atau, tak sedikit pula yang sudah memiliki penggemar di media sosial namun karya mereka tak dapat dicetak dan diabadikan karena keterbatasan modal.

"Ironis banget sebenarnya, Indonesia punya bakat-bakat yang bagus tetapi sulit mendapatkan investor," kata komikus yang sudah mencetak beberapa karya ini.

Masalah ini, menurut Pepeng, dipicu ketidakberdayaan Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi dan politik. Pepeng menilai, kedua bidang, yang selalu saja jadi kambing hitam segala permasalahan di Indonesia, ini harus diselesaikan terlebih dahulu. Baru kemudian sistem di negara ini dapat dipastikan berjalan lancar.

Permasalahan komik ini juga diperparah dengan kemajuan komik yang terbilang lambat. Perkembangan komik Indonesia dinilai Pepeng bukan hanya disebabkan masalah sponsor dan publikasi, tetapi juga minat baca masyarakat Indonesia yang dinilai cukup rendah.

Sejauh ini, Pepeng  sudah membuat setidaknya beberapa karya yang telah dipublikasi sejak pertama kali terjun di dunia industri komik, pada 2010. Alumni Institut Kesenian Jakarta itu pernah mengeluarkan komik Bonbinben untuk pembaca anak-anak, disusul Setan Jalanan yang ber-genre aksi, serta Ramai-ramai Menuju Indonesia Timur, juga beberapa proyek ber-genre drama yang tengah dikerjakan.

"Gemes lihat komik Indonesia genre-nya humor dan setan melulu, pingin jadi ikutan buat yang lain. Ya, semoga makin variatif lah," kata pemilik studio dan manajemen komikus, Franki Komik ini.

Pria 39 tahun ini menginginkan genre komik yang ia hasilkan dapat lebih variatif mengingat begitu majemuk hal yang dapat diangkat dari Indonesia, mulai dari sejarah hingga gaya hidup di Indonesia. Ia pun terus memperkaya inspirasi dengan terus bersosialisasi dengan sekitarnya.

Pepeng yakin, komik Indonesia dapat mampu bersaing dengan komik luaran yang sudah banyak masuk ke Indonesia. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin selama keinginan dan usaha untuk maju masih terus ada. Ia pun memiliki pesan untuk sesama komikus.

"Komikus harus pintar-pintar branding diri sendiri dengan karyanya. Dengan cara seperti itu, bila nama dan karyanya sudah diketahui orang, maka berbagai tawaran akan datang," kata Pepeng.

(end/vga)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Parade Kreativitas PopCon Asia 2015
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video