Hari ini, Kamis (19/11) Anie kembali mengunggah tulisan ke akun yang sama. Hanya saja, harapan keajaiban yang Selasa (17/11) lalu ia lambungkan telah sirna. Ia menyampaikan kabar duka. Sang pengarang kebanggaan Kalimantan telah menutup usia.
Korrie meninggal pukul delapan pagi tadi di Jakarta. Rupanya beberapa hari sudah Korrie dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih karena penyakit jantung. Pagi tadi, kondisinya memburuk. Korrie pun mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Engkau juga sempat memberikan endorsement pada sampul belakang tiga buah buku karyaku," tulisnya. Nadjib sempat mengunjungi Korrie di rumah sakit, pekan lalu. Tulisnya, saat itu Korrie masih menggebu-gebu membicarakan sastra.
"Kita masih bisa tertawa-tawa," katanya.
Penulis Fanny Jonathans, putri Gerson Poyk pun merasakan kebaikan Korrie. Ia mengaku, bakat menulis berkembang berkat "didikan" Korrie. Sang penulis lah yang dahulu sering memuat karya awal Fanny di Majalah Sarinah.
Itu juga yang dirasakan penulis Pipiet Senja. Noveletnya yang akan dimuat di Sarinah, ternyata batal lantaran majalah itu dinyatakan bangkrut karena krisis moneter. Pipiet menulis di Facebook, Korrie merogoh kocek sendiri untuk "transfusinya."
Sebelum meninggal, Korrie masih terus berkarya. Pada Rabu (11/11) lalu, opininya diterbitkan di sebuah surat kabar besar nasional. Sang penulis curhat soal honorarium. Ia mengaku honornya dari buku-buku yang terbit di Balai Pustaka seret.
Meski begitu, pria 62 tahun itu tidak patah semangat. Ia masih tetap cinta menulis. Ia lah di balik pencetus buku Sastrawan Angkatan 2000. Korrie juga punya cita-cita mulia, seperti yang dituliskan Fanny.
"Saya baca SMS-nya ke ayah saya (Gerson Poyk) beberapa bulan lalu, di mana beliau mengungkapkan keinginannya untuk mendata seluruh penulis sastra di Indonesia."
Selamat jalan, Korrie Layun Rampan... (rsa/vga)