Tepat lima hari lalu (12/8), band yang digawangi oleh Cholil Mahmud (vokal/gitar), Akbar Bagus (drum), Adrian Yunan (bass) dan Poppie Airil (bass) ini merilis lagu Merdeka secara digital lewat iTunes. Lewat lagu itu mereka mempertanyakan arti merdeka di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ERK juga mempertanyakan masalah sosial politik yang terjadi di Indnoneia belakangan ini. Seperti perlawanan ibu Kendeng terhadap pembangunan pabrik semen dan kekerasan yang terjadi di Papua serta dialami oleh orang Papua. Beberapa kejadian itu juga menjadi formula dalam meracik lirik lagu Merdeka.
Band yang terbentuk sejak 2001 ini merilis lagu tersebut bersamaan dengan video klip. ERK mengunggah video klip tersebut lewat akhir Twitter pada Jum'at (12/8). Saat ini video itu sudah dibagikan ulang sebanyak 702 kali dan disukai sebanyak 379 kali.
Semua gambar dalam video itu diambil di Papua yang digarap oleh Anton Ismael. Sebagai pendiri sekolah fotografi Kelas Pagi Papua, Anton menerjemankan lagu Merdeka menjadi kerinduan untuk kembali ke alam bebas. Ia menggarap video ini bersama rekan-rekan Kelas Pagi Papua di sela kelas.
Tak hanya sekadar mempertanyakan arti merdeka, ERK juga mencoba untuk memberikan solusi. Mereka mengajak pecinta musik untuk peduli dengan Indonesia. Hasil dari penjualan lagu itu akan didonasikan untuk mengirim tenaga pengajar ke Papua.
Ini bukan merupakan kali pertama ERK membuat lagu dengan membahas Tanah Air. Sebelumnya pada album Kamar Gelap (2008), mereka merilis lagu bertajuk Menjadi Indonesia.
Namun lagu itu dimaksudkan untuk membangkitkan semangat orang Indonesia dan mencari ke mana perginya Indonesia yang ramah dan toleran. Tidak seperti lagu Merdeka yang mengkritik dan mempertanyakan kemerdekaan.
Sepanjang karier bermusik, ERK memang sering membuat lagu-lagu yang mengandung kritik sosial. Seperti lagu Di Udara yang dibuatkan untuk seorang aktivis bernama Munir. Selain itu masih ada lagu Jangan Bakar Buku, Debu-Debu Beterbangan, Di sana Banyak Asap dan beberapa lagu lain yang mengandung kritik sosial. (tyo)