"Selamat Jalan, Bung Leo Imam Sukarno aka Leo Kristi. Wafat di Bandung 21 Mei 2017. Nasionalisme Bung akan selalu menginspirasi kami," cuit Kepala Bekraf, Triawan Munaf melalui akun twitter miliknya.
[Gambas:Twitter]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Wafat Pasca Penggalangan Dana
Kepergian Leo tentu meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat dekat. Namun yang memilukan, ternyata dia meninggal tepat setelah konser penggalangan dana untuknya digelar.
Penggemar Leo (LKERS) dan para sahabatnya menggelar sebuah konser penggalangan dana di Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur pada Sabtu (20/5).
Menurut Ramdan, salah satu LKERS yang ikut menyiapkan acara tersebut, konser berlangsung lancar. Sejak dimulai hingga usai, setidaknya setengah karya dari Leo Kristi dimainkan di malam itu.
"Ya kita memang biasa reriungan aja, semalam itu sekitar 50 lah lagu dibawakan teman-teman," ungkapnya kepada Detik.com.
"Semalam itu ada kabar kalau Mas Leo kritis, kita akhirnya berdoa bersama sekitar jam 12 malam. Nah, jam 1 pagi, kita dapat kabar beliau sudah tidak ada," imbuhnya.
Pria kelahiran Surabaya ini dikenal sebagai musisi kelana yang banyak menghabiskan karirnya di jalanan. Leo merupakan musisi seangkatan mendiang Gombloh dan Franky Sahilatua. Bersama keduanya, ia sempat membuat grup band beraliran rock progresif yang diberi nama Lemon Tree’s.
Namun kemudian ia bersolo karier karena visi bermusiknya berbeda dengan kedua rekannya tersebut.
Semasa hidupnya, Leo telah merilis sejumlah album, termasuk Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985, gagal beredar).
Dia juga pernah merilis Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, direkam pada CD Terbatas), Warm, Fresh and Healthy (17 Desember 2010), dan Hitam Putih Orche (2015).