Diberitakan Reuters pada Selasa (26/5), pesawat Boeing 777 itu dalam penerbangan singkat dari Malabo, ibukota Guinea Ekuator, menuju kota terbesar Kamerun, Douala. Setelah itu, pesawat tersebut mengangkut penumpang menuju Paris pada 2 Mei lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilot kemudian menaikkan ketinggian hingga lebih dari 13 ribu kaki sebelum melanjutkan ke Douala.
Air France mengatakan, tindakan kru pesawat dalam hal ini telah sesuai dengan prosedur yang tertera dalam manual penerbangan. Namun kedua pilot diistirahatkan untuk menjalani latihan lebih lanjut.
Air France juga mengaku telah memberi keterangan pada kru soal kondisi permukaan di Douala.
Saat itu, pesawat berisi 23 penumpang, tiga pilot dan 10 kru kabin. Maskapai ini mengatakan bahwa penumpang tidak mengetahui ketegangan yang terjadi di kokpit saat pesawat hampir menabrak gunung.
BEA menanggap manuver menghindari tabrakan dengan gunung adalah "insiden serius". Dalam protokol penerbangan, insiden serius dianggap sebagai peristiwa yang "hampir menyebabkan bencana" sehingga penyelidikan harus dilakukan. (stu)