Rencana tersebut disampaikan Rogozin dalam kunjungannya ke Baghdad pada Kamis (12/2) yang didampingi oleh delegasi Rusia terbesar dalam beberapa tahun ke Irak. Hampir 100 pejabat pemerintah dan pelaku usaha Rusia berkunjung ke Irak dalam rangka memperkuat hubungan komersial dan keamanan kedua negara.
Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim al-Jaafari mengatakan pembicaraan kedua negara berkisar seputar pemberian bantuan militer dari Rusia untuk merebut sepertiga wilaya Irak yang dikuasai oleh kelompok militan ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusia telah menginvestasikan jutaan dolar di sektor energi di Irak dan tahun lalu membuka sebuah pusat komando di Baghdad di bawah perjanjian berbagai informasi intelijen dengan Irak, Iran dan Suriah untuk memerangi ISIS.
Rogozin juga menegaskan Moskow akan terus menyediakan Irak dengan peralatan militer untuk membantu "meningkatkan kesiapan tempur angkatan bersenjata Irak." Namun, Rogozin tidak merinci peralatan apa saja yanga akan diberikan Rusia kepada Irak.
Kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa Rogozin berharap bantuan militer akan membantu Irak merebut kembali kota Mosul dan wilayah lain yang jatuh ke tangan ISIS.
Sejumlah pejabat Irak yang tidak dipublikasikan namanya menyatakan frustrasi dengan tingkat kecepatan dan kedalaman serangan udara koalisi pimpinan AS. Pusat komando Rusia di Irak juga dilaporkan kerap berbagi informasi intelijen untuk serangan udara di Irak dan Suriah.
Nilai perdagangan kedua negara tahun lalu mencapai hampir US$2 miliar, sebagian besar terdiri dari ekspor dari Rusia, menurut laporan TASS. Rogozin menyatakan Rusia bisa menyediakan pesawat Sukhoi Superjet untuk penerbangan sipil Irak.
Rogozin juga mengusulkan pertemuan bilateral kedua negara berikutnya diselenggarakan di Mosul, kota yang ingin direbut Irak dari cengkraman ISIS.
"Kerja sama ekonomi harus sejalan dengan asalah keamanan. Semakin cepat Anda membebaskan kota ini, semakin cepat kita bisa kembali ke Irak," ujar Rogozin. (ama/den)