logo CNN Indonesia

Setahun Gempa Nepal: Upaya Adaptasi dalam Labirin Bencana

, CNN Indonesia
Setahun Gempa Nepal: Upaya Adaptasi dalam Labirin Bencana Warga Kathmandu melintasi reruntuhan bangunan di kawasan Thamel saat akan memulai aktivitas di pagi hari. (Reynold Sumayku)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bal Kumari Gurung, ibu yang mengenakan busana tradisional berwarna merah itu tersipu-sipu. Kebaikan hatinya terpancar dari gerak-geriknya, namun untuk berbicara ia membutuhkan pertolongan. Sejenak setelah melongok ke sana-ke mari, ia menarik lengan seorang perempuan muda yang berbusana kasual perkotaan.

“Nama saya Yamuna Gurung. Saya tinggal di Kota Pokhara dan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Aslinya saya orang kampung sini. Biar saya terjemahkan kepada Ibu Bal Kumari apa yang ingin ditanyakan,” katanya. Melalui perantaraan Yamuna, Ibu Bal Kumari bercerita cukup panjang.

Desa ini bernama Sidhane. Desa yang hening, sejuk, dan sesekali disapu oleh angin yang terasa dingin. Rumah-rumah di sini terbuat dari perpaduan batu dan kayu, dengan jalan-jalan setapak yang hampir selalu membentuk kurva dan ditata dari susunan batu.

Dari satu sudut, pemandangan dari desa ini adalah berupa lahan pertanian yang bertingkat-tingkat menurun ke bawah. Juga puncak-puncak Pegunungan Panchase yang jangkung dan tampak bergerigi di atas sana.

Berjarak sekitar dua jam berkendara dengan mobil gardan ganda dari Pokhara—ibu kota Distrik Kaski di Nepal Barat, Desa Sidhane dihuni hanya 20-an kepala keluarga. Desa ini termasuk salah satu desa tradisional di lembah luas yang dipayungi Pegunungan Panchase.

Kesemua desa ini dihuni oleh komunitas Gurung yang termasuk penyumbang anggota serdadu Gorkha (Gurkha) untuk India dan Inggris pada masa silam.

Tradisi merantau berlanjut hingga kini. Sekarang, kaum lelaki mudanya kebanyakan meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah hingga ke luar negeri.

Sedangkan, sejumlah perempuan muda pun mengikuti suami tinggal di kota, seperti halnya Yamuna. Akhirnya, orang-orang tua dan anak kecil yang masih tinggal di desa ini.

Bagi yang tinggal, kehidupan sehari-hari di sini agaknya cukup untuk hidup tenang dan mencukupi kebutuhan sendiri. Lain daripada itu, tangan mereka digunakan untuk berkarib dengan alam.

Merawat mata air, menanam pohon, termasuk melestarikan suatu jenis tanaman pakis liar yang terbilang langka di Nepal. Saat ini, mereka sedang menyemai bibit tanaman teh yang nantinya diharapkan bisa menjadi penghasilan tambahan.

“Di sini sekarang sepi dari turis. Kalau dulu sebelum gempa besar itu cukup banyak orang Barat datang untuk menginap,” kisah Bal Kumari. Bagi warga Sidhane, homestay pada masa sebelum terjadi gempa adalah berkah.
Kesedihan sejumlah perempuan warga Desa Karki Tahara dan Khahare di Distrik Kaski mulai pudar. Juli tahun lalu saat masih prihatin atas gempa bumi yang menghancurkan belahan lain Nepal, para perempuan ini menderita akibat terjangan tanah longsor dan banjir dari aliran Sungai Khahare. (Reynold Sumayku)
Mereka membuka pintu rumahnya lebar-lebar bagi pengunjung yang ingin menginap dan menikmati keindahan alam. Sebagai tambahan daya tarik, mereka membuka sebuah bangunan rumah untuk dijadikan museum tentang tradisi dan budaya komunitas Gurung.

Balasannya tak hanya uang secukupnya, tetapi juga teman dan saudara baru berbagai bangsa. Akan tetapi, itu semua terjadi dulu, sebelum gempa. “Padahal di sini gempa itu tidak banyak merusak, namun mungkin turis masih takut,” timpal Yamuna.

Boleh jadi, keberuntungan itu karena struktur dan desain rumah mereka. Dindingnya tersusun dari batu-batu yang pipih. Sisanya berupa kayu dan seng.

Desa Sidhane, seperti juga setidaknya tiga desa lain di kawasan Panchase, merupakan lokasi kerja United Nations Environment Programme (UNEP). Lembaga PBB untuk lingkungan itu mendorong warga agar terus menerapkan apa yang mereka sebut sebagai 'adaptasi berbasis kepada ekosistem'.

Secara singkat, program ini berarti upaya memanfaatkan ekosistem dan kekayaan hayati untuk membantu masyarakat beradaptasi terhadap efek perubahan iklim. Selain di Nepal yang mewakili Asia, program ini juga diterapkan di wilayah pegunungan Peru (Benua Amerika) dan Uganda (Afrika).

Beradaptasi dengan Perubahan

Setengah jam lagi melanjutkan perjalanan ke dekat Puncak Panchase dari sebuah desa, situasi tampak lebih sunyi. Bhanjyang, nama desa yang letaknya paling tinggi di pegunungan itu, bagaikan kampung mati yang ditinggalkan semua penghuninya.

Satu-dua perempuan sepuh terlihat pada sore hari sedang menyapu pekarangannya. Lain dari itu, semua rumah tampak lengang. “Kalau kalian tidak datang, barangkali saya pun tidak di sini sekarang,” ujar Chija Gurung, pengelola Happy Heart Hotel—nama yang terpampang pada pelat logam di bagian atas sebuah rumah sederhana berdinding batu yang difungsikan sebagai homestay.

Lok, seorang pengemudi yang mengantar kami, menceritakan bahwa situasinya serupa. Orang-orang muda pergi merantau. Lok sendiri bahkan pernah delapan tahun bekerja kasar di Malaysia. “Boleh cakap Melayu sajalah,” katanya.

Di Desa Bhanyang, daya tarik wisata sebenarnya lebih beragam. Pengunjung dapat trekking ke tiga puncak Pegunungan Panchase sambil menikmati keindahan hutan yang dikelola oleh komunitas lokal.

Bunga rhododendron dan beberapa jenis anggrek hutan yang disukai kaum perempuan mudah dijumpai sepanjang perjalanan. Kemudian, pada dua dari tiga puncak Panchase (sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut) terdapat kuil-kuil Buddha serta reruntuhan tempat bersemadi.

Ada pula Danau Panchase yang lokasinya tak jauh dari puncak ketiga. Belum lagi pemandangan puncak-puncak gunung bersalju Himalaya seperti Annapurna, Dhaulagiri, Manaslu, dan Machhapuchhre yang tampak sangat dekat dari sini—jika cuaca memungkinkan.

“Sudah menjadi tugas saya untuk merawat,” kata Gopal Gurung. Warga lokal asli yang berusia 60-an tahun ini memimpin komunitas lokal dalam program-program pemeliharaan lansekap, mengantisipasi perubahan iklim dan cuaca ekstrem dengan menyesuaikan diri terhadap ekosistem, sekaligus memanfaatkan jasa lingkungan untuk aktivitas wisata.

Kekhawatiran terbesar Gopal bukan hanya ancaman gempa, melainkan juga perubahan iklim. Sepanjang puncak-puncak Panchase ini hingga ke bagian lembah dan kakinya sering terjadi musibah tanah longsor sejak gempa yang disusul curah hujan brutal pada tahun lalu.

Di Desa Khahare, gerbang masuk ke wilayah Panchase dari arah Pokhara, tanah longsor bahkan dibarengi banjir bandang yang menewaskan sekurangnya 11 penduduk.
Dalam usianya yang telah lebih dari 60 tahun, Guphal Gurung ringan saja jika mendaki puncak-puncak Pegunungan Panchase. Ia juga memimpin komunitas Gurung, penduduk asli kawasan ini, dalam aneka program penyelamatan lanskap dan adaptasi sumber mata pencaharian berbasis ekosistem. (Reynold Sumayku)
Gopal tentu saja tidak memiliki banyak kesamaan latar belakang dengan Al Gore, politisi sekaligus mantan wakil presiden AS yang pada 2006 tampil dalam film dokumenter untuk mengkampanyekan ancaman pemanasan global.

Akan tetapi, Gopal yang orang desa asli pun percaya, perubahan iklim tidak hanya telah terjadi tetapi juga mengancam kelangsungan hidup. Cuaca sulit diprediksi lagi. Jika terjadi hujan, kerap kali curahnya terlalu ekstrem.

Apabila tiba bulan panas, temperaturnya agak berlebihan. Kemudian terjadi hujan pada bulan yang seharusnya kering, dan sebaliknya. Hal ini cenderung terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Nepal.

Di Indonesia, hujan sudah sering terjadi di bulan Juni, sampai-sampai puisi karya Sapardi Djoko Damono kini tampak sebagai ramalan yang telah menjadi kenyataan.

Pada 2014, Bank Dunia merilis data resmi: menurut bukti-bukti, dewasa ini dunia telah memanas hampir 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pada masa pra-industri (abad ke-18), dan terus memanas.

Keberlangsungan pangan dan air terancam. Terkait dengan fenomena ini, terdapat satu hal yang hampir pasti sama di belahan dunia manapun: kaum miskin yang merasakan dampak paling parah.

Sepanjang perjalanan mendaki Panchase, Gopal terus berbicara tanpa tersengal-sengal sehingga tak jelas kapan ia sempat menarik napas. Menakjubkan. Lalu, pada suatu titik, ia menunjuk bukti lain. ”Debit air di Danau Panchase terus menyusut,” katanya.

Dilema Rekonstruksi

Dalam banyak hal, Nepal memiliki kesamaan dengan Indonesia. Negara berkembang, agraris, wilayah pegunungan, keramahan penduduk, gelombang tenaga kerja ke luar negeri, serta akrab dengan bencana alam. Namun, Nepal kurang beruntung karena saat ini masih termasuk sebagai salah satu dari 25 negeri termiskin di dunia.

Tak mengherankan apabila setiap minggu, bahkan setiap hari, ada saja pemuda yang berangkat ke luar negeri sebagai tenaga kerja. Di terminal keberangkatan Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, gelombang tenaga kerja ini paling mudah terlihat.

Antrean tenaga kerja yang hendak ke luar negeri mengular, sehingga disediakan pintu masuk tersendiri. Mereka itu terutama berasal dari wilayah pedesaan.

Kenyataan ini sedikit banyak mempengaruhi upaya rekonstruksi pascagempa pada April dan Mei tahun lalu yang menewaskan sekitar sembilan ribu orang. Keberangkatan pemuda Nepal ke luar negeri itu mau tak mau mengurangi tenaga yang sebenarnya bisa membantu upaya adaptasi dengan lingkungan untuk menghadapi bencana alam.

Organisasi-organisasi PBB seperti UNEP dan United Nations Development Programme (UNDP) kemudian melihat bahwa kaum perempuan sesungguhnya saat ini adalah kunci di negeri Nepal, khususnya di wilayah pedesaan.

Tak pelak, kaum perempuan menjadi pihak yang paling digandeng dalam program-program untuk beradaptasi dengan alam. Di Desa Chandani Mandan, Distrik Kavrepalanchowk, Nepal Timur misalnya. Kaum perempuan didorong untuk memegang peranan merawat sumber-sumber air.

UNEP dan UNDP bekerja sama dalam program yang disebut Poverty Environment Initiative (PEI). Dana juga akan turun untuk memperbaiki serta mengalirkan sumber-sumber air yang baru ke desa, dengan partisipasi kaum perempuan setempat.

Sejauh pengamatan, Distrik Kavrepalanchowk memang beriklim kering dan panas. Jika dilihat dari atas, punggungan-punggungan bukit tidak didominasi oleh lahan pertanian, tetapi oleh lahan kosong yang kering, permukiman penduduk, serta tumbuhan nonproduksi.

"Pemerintah Nepal sebenarnya telah memiliki pos dan anggaran tersendiri untuk mitigasi perubahan iklim," kata Purna Chandra Lal Rajbhandari, warga negara Nepal yang menjadi konsultan di UNEP Asia Pasifik.

Namun, tentu saja gempa bumi dan serangkaian bencana susulan seperti banjir dan tanah longsor tahun lalu membutuhkan dana taktis secara cepat. Sumbernya bisa dari organisasi maupun negara manapun asalkan bersifat hibah kemanusiaan.
Sisa-sisa ruangan kelas pada suatu kompleks bangunan sekolah yang hancur berantakan di Distrik Kavrepalanchowk, Nepal Timur. (Reynold Sumayku)
Kavrepalanchowk sendiri bukan hanya salah satu distrik miskin di Nepal, melainkan juga termasuk yang paling terkena dampak gempa. Di Desa Chandani Mandan saja, sekitar 90 persen bangunan rumah warga hancur berantakan.

Warga kemudian cenderung mendirikan permukiman sementara, atau rumah baru, di lahan yang tadinya untuk pertanian. Akibatnya, sumber utama mereka untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri semakin sempit.

“Persoalannya bukan hanya membangun kembali rumah dan lahan pertanian,” ujar Satwant Kaur dari UNEP Asia Pasifik, “melainkan sekaligus harus dirancang agar berkelanjutan dan sanggup beradaptasi dengan perubahan iklim.”

Senada dengan dia, Alejandro Terrones dan Pete Jones dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) menyebutkan bahwa material bahan baku bangunan bisa apa saja, namun yang terpenting adalah desain rumah baru untuk masyarakat Nepal.

“Bantuan sukarela dari orang-orang yang ahli dalam arsitektur tahan gempa menjadi sangat penting dalam hal ini. Karena Nepal memang rawan gempa,” kata Alejandro, pria asal Meksiko dalam perbincangan di sebuah kedai kopi di sudut kota tua Bhaktapur.

“Kami memberi hibah dana untuk bibit tanaman pertanian. Namun, karena kebutuhan praktis, kerap kali dana itu digunakan oleh warga untuk hal lain termasuk menambah biaya pembangunan rumah baru. Ini dilema yang lain,” sahut rekannya, Pete Jones, yang sudah dua bulan meninggalkan kediamannya di London untuk ikut membantu Nepal.

Otoritas Nepal untuk Rekonstruksi Nasional (NAR) memberi insentif 200.000 rupee Nepal kepada tiap-tiap keluarga yang rumahnya hancur karena gempa. Namun, uang setara dengan sekitar Rp25 juta itu tak cukup untuk membangun rumah baru yang lebih tahan gempa.

Maklum, ongkos pembangunan rumah permanen di Nepal adalah sekitar 600.000 rupee Nepal atau sekitar Rp74 juta. Harga material bangunan pun meroket sejak gempa, karena sejumlah pabrik tempat pembuatannya juga sempat rusak.

Tercatat, tak kurang dari 650.000 rumah berantakan akibat gempa besar itu, sementara kerugian total Nepal diperkirakan sekitar tujuh miliar dolar AS (sekitar Rp92 triliun). Bantuan internasional mengalir sekitar US$4 miliar —termasuk sekitar US$2 juta dari Indonesia.

Setengah dari total bantuan itu berupa hibah untuk upaya-upaya rekonstruksi. Satu hal yang juga tak kalah penting dibanding bantuan dana adalah apa yang tampak dari balik kaca mobil saat terburu-buru kembali ke Kathmandu untuk penerbangan pulang ke Jakarta.

Masih di Distrik Kavrepalanchowk, sekilas tampak sejumlah lelaki dan perempuan muda Kaukasian melakukan pekerjaan tukang bersama-sama sebuah keluarga lokal—memasang batu bata dan mengaduk semen untuk membangun rumah.

Nepal memang membutuhkan uluran tangan dalam bentuk apapun untuk mengatasi banyak problemnya. Terutama dalam solusi yang sifatnya berkelanjutan, mengingat lokasi yang berada tepat di daerah rawan gempa serta di kaki gunung-gunung bersalju Himalaya yang segera terimbas perubahan iklim.

Dalam artikelnya di harian Nepal berbahasa Inggris, República, seorang pekerja kemanusiaan yang bergabung dalam rekonstruksi pasca-gempa Nepal bernama Milan Mulkhia menyebutkan hal menarik. Di antaranya, tulis dia, Nepal seharusnya berkaca dari pengalaman sejumlah negara Asia lain termasuk Indonesia, dalam penanganan bencana.

Bagaimanapun, musibah sepanjang tahun lalu di negeri tersebut sesungguhnya adalah peringatan kesekian. Bukan hanya bagi Nepal sendiri, melainkan juga bagi Indonesia.


(meg)

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video