logo CNN Indonesia

Mengapa Banyak Sekali Penembakan Massal di AS

, CNN Indonesia
Mengapa Banyak Sekali Penembakan Massal di AS Lagi-lagi penembakan massal di Amerika Serikat. Sebanyak 50 orang tewas dalam insiden di sebuah kelab gay di Orlando. Pelakunya diduga simpatisan ISIS. (Reuters/James Lawler Duggan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagi-lagi penembakan massal di Amerika Serikat. Sebanyak 50 orang tewas dalam insiden di sebuah kelab gay di Orlando pada Minggu dini hari. Pelakunya diduga simpatisan ISIS.

Insiden ini menambah panjang daftar penembakan di negara tersebut. Menurut data penelitian yang dirilis CNN, penembakan massal di AS lebih banyak ketimbang di negara lain.

Definisi penembakan massal adalah pembunuhan dengan senjata api yang menewaskan empat orang atau lebih, tidak termasuk pembunuhan geng kriminal atau pembantaian satu keluarga.

Antara tahun 1966 dan 2012, ada 90 penembakan massal di Negeri Paman Sam. Penembakan di Orlando masuk kategori penembakan massal, sebelumnya ada insiden di bioskop Aurora, Colorado, menewaskan 12 orang dan Sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, menewaskan 28 orang, keduanya terjadi pada 2012.

Sebanyak 90 penembakan massal di AS mencakup sepertiga dari 292 serangan serupa di seluruh dunia dalam periode yang sama. Jumlah warga AS mencakup 5 persen populasi global, berarti negara ini memiliki 31 persen penembakan massal di dunia.

"Masyarakat tidak terlalu terkejut dengan statistik ini," kata Adam Lankford, profesor ilmu kriminal di University of Alabama yang melakukan penelitian tersebut. Riset Lankford merupakan yang pertama dalam bidang tersebut.

Mengapa penembakan di AS berbeda

Lankford menyisir semua riwayat penembakan dan menemukan kesamaan faktor yang menjadikan insiden di AS berbeda dengan peristiwa serupa di seluruh dunia.

Di AS, ujar risetnya, masyarakat memiliki kemungkinan tewas dalam penembakan massal di tempat kerja atau sekolah. Sementara di negara lain, insiden ini biasanya terjadi di dekat instalasi militer.

Dalam setengah jumlah kasus di AS, penembakan menggunakan lebih dari satu senjata api. Sementara pada insiden lainnya di seluruh dunia, pelaku hanya membawa satu pistol.
Penembakan massal di kelab gay Orlando, menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya. (Reuters/Carlo Allegri)
Di AS juga, rata-rata ada 6,87 korban per insiden. Di 171 negara lainnya, tulis laporan Lankford, rata-rata korban tewas adalah 8,8 per insiden.

Lankford mengatakan, jumlah korban tewas yang lebih kecil karena polisi AS terlatih dan terbiasa mengatasi kasus penembakan massal. "Polisi di negara lain lebih lambat merespons dan tidak siap," kata dia.

Fenomena penjiplak

Mengapa banyak sekali penembakan massal di Amerika Serikat?

Kebanyakan pelaku penembakan di AS mengalami gangguan kejiwaan, berdasarkan data Lankford. Namun studi lain menunjukkan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di AS tidak meningkat signifikan, sementara jumlah penembakan massal terus meroket.

Mengutip data Harvard School of Public Health dan Northeastern University, serangan semacam ini meningkat tiga kali lipat dari tahun 2011 hingga 2014. Riset Harvard menunjukkan bahwa serangan terhadap masyarakat di periode waktu itu terjadi setiap 64 hari. Padahal selama 29 tahun sebelumnya, penembakan terjadi rata-rata setiap 200 hari sekali.

Para peneliti meyakini, penembakan massal ini menular. Sebuah penembakan bisa memicu penembakan lainnya dalam waktu dua pekan. Peneliti mengatakan, masa "infeksi" bisa bertahan selama 13 hari.

Menurut Lankford, fenomena penjiplakan kejahatan ini lebih parah terjadi di AS karena mudahnya memperoleh senjata api dibanding negara lainnya di dunia.

Ada lebih banyak senjata di AS dibanding negara lain di seluruh dunia. Diperkirakan 270 juta hingga 310 juta senjata api bersirkulasi di pasar AS. Dengan populasi 319 juta jiwa, berarti setidaknya satu warga Amerika memiliki satu senjata api.

Menurut lembaga riset Pew Research Center, lebih dari sepertiga warga Amerika mengaku memiliki senjata di rumah mereka. Negara dengan kepemilikan senjata kedua terbesar dunia adalah India, dengan 46 juta senjata yang tersebar di masyarakat yang berpopulasi 1,25 miliar. Namun India bahkan tidak masuk dalam lima besar penembakan massal di dunia.

Jumlah penembakan massal ini menurut riset Lankfords bergantung pada tingkat pelarangan pembelian senjata. Dia mencontohkan Australia. Negara ini mengalami empat kali penembakan massal antara 1987 dan 1996. Australia kemudian melarang kepemilikan senjata api atas desakan publik. Sejak saat itu, tidak pernah ada lagi penembakan massal di negara tersebut.

Penembakan di kelab gay Orlando menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya. (Reuters/Steve Nesius)
Ingin terkenal

Ada berbagai motivasi penembakan di Amerika Serikat. Namun Lankford menggarisbawahi motif terbesar adalah keinginan menjadi terkenal, sebuah target yang sangat penting bagi generasi saat ini di negara itu.

"Warga Amerika tumbuh dengan hasrat ingin jadi terkenal, tidak diragukan lagi ada hubungan antara peliputan media yang didapatkan para pelaku dan tindakan yang mereka lakukan," kata Lankford.

Motivasi ingin terkenal ini juga terjadi kepada para pelaku dari kalangan radikal Islam, salah satu contohnya adalah penyanderaan Olimpiade tahun 1972 di Jerman.

"Jika serangan [Orlando] ini dimotivasi oleh ideologi fundamentalis Islam radikal, maka hal ini sesuai dengan sikap intoleransi terhadap gay dan lesbian, dan mencari ketenaran dengan alasan ini," kata Lankford.

Dikhawatirkan, kasus kali ini akan menjadi preseden dan mengintai keselamatan pada kaum LGBT di Amerika Serikat.

"Para penembak pencari ketenaran akan mencoba membunuh korban lebih banyak lagi. Kami melihatnya hampir menjadi kompetisi. Lebih menakutkan lagi, pelaku [berikutnya] bisa membunuh lebih banyak orang dan terkenal, kemudian yang berikutnya akan berinovasi untuk mendapatkan perhatian," lanjut Lankford.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Penembakan Kelab Gay Orlando
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video