Logo Kursi Panas DKI 1

Analisis

Tiga Strategi Anies untuk Menjungkalkan Ahok

Basuki Rahmat
Kamis, 16/02/2017 12:13 WIB
Tiga Strategi Anies untuk Menjungkalkan Ahok Anies Baswedan dengan latar Ahok-Djarot saat acara debat terbuka yang diselenggarakan KPU DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia -- Terdepaknya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dalam penghitungan cepat hasil pencoblosan pemilihan kepala daerah 17 Februari kemarin menyisakan dua pasangan calon.

Di atas kertas, duet Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat serta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang bakal bertarung ke babak berikut dinilai sama-sama memiliki peluang yang sama besar untuk menang.

Namun berkaca dari hasil penghitungan cepat lembaga-lembaga survei, kandidat Ahok-Djarot lebih “di atas angin” karena lebih unggul pada kisaran 3 sampai 4 persen. Meski selisihnya tidak terlampau jauh tapi Ahok-Djarot memiliki sejumlah keunggulan lain yang saat ini tak dimiliki oleh Anies-Sandi.

Selain sebagai petahana, Ahok-Djarot juga disokong oleh mesin politik yang jauh lebih kuat dengan empat partai politik. Berbeda dengan Anies-Sandi yang saat ini hanya didukung oleh dua parpol.

Lantas bagaimana strategi yang harus diperhatikan oleh Anies-Sandi untuk bisa memenangkan putaran kedua melawan Ahok-Djarot terkait perebutan limpahan suara dari para pendukung Agus-Sylvi yang di belakangnya ada empat parpol?

Setidaknya ada tiga poin penting yang harus diperhatikan terkait dengan hal tersebut. Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran Muradi menyebut pertama yaitu dukungan partai politik yang berada di belakang Agus menjadi penting untuk dipertimbangkan.
Betapapun dalam pilkada faktor figur lebih dominan, namun keberadaan partai politik tetap penting untuk dipastikan sokongannya. “Karena berarti juga membuka jalan bagi dukungan publik yang dekat dan simpatisan dari partai tersebut,” ujar Muradi kepada CNNIndonesia.com, Rabu malam (15/2).

Kedua, membumikan program yang ditawarkan dalam bentuk yang lebih rasional dan terukur. Selama hal tersebut masih dalam bentuk program yang tidak nyata dan terukur, maka ruang untuk bersaing dengan program berjalan Ahok akan tertutup. “Dan publik akan lebih memilih petahana karena lebih konkret.”

Dalam analisisnya, Muradi berpendapat poin ketiga yang juga harus diperhatikan yaitu tidak lagi memanfaatkan sentimen dan isu SARA sebagai komoditas untuk menyerang lawan politik. Sebab dari hasil putaran pertama hasil hitung cepat perolehan suara tersebut menggambarkan bahwa publik Jakarta tidak gentar dan mengabaikan isu SARA dalam memilih pasangan calon.
Ketiga faktor di atas bagi Muradi bakal sangat mempengaruhi besarnya peluang Anies-Sandi untuk bisa menjungkalkan kuatnya petahana. Betapapun itu tampak mudah, namun pada praktiknya, keberadaan tiga hal tersebut akan menjadi pembeda dengan petahana.

Dengan karakter pemilih yang khas, Muradi menekankan, Anies-Sandi harus memiliki perbedaan dengan petahana, sebab dengan begitu akan memudahkan pemilih untuk mengindentifikasikannya berbeda dengan Ahok-Djarot.

Peran Sosmed

Pengamat politik yang menjabat Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP Universitas Indonesia Aditya Perdana berpendapat keberhasilan Anies dan Sandi masuk putaran kedua karena kemampuannya untuk memaksimalkan kampanye yang mereka lakukan.

Aditya melihat di semua lini mereka bergerak tapi fokus dan intensitas yang bisa terlihat di sosial media atau sosmed. Hal ini berbeda sekali dengan dua pasangan calon lainnya.

“Anies memang kejar di sosmed dan tampaknya lumayan berhasil. Untuk bisa menunjukkan korelasinya mungkin harus ada yang mengecek seberapa besar pemilih yang memantau di sosmed memiliki ketertarikan dengan apa yang akan dilakukan Anies dan Sandi,” tutur Aditya dalam pesan singkatnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis.

Aditya memperkirakan dalam pekan ini dan pekan depan akan ada pertemuan intensif dari kelompok Agus untuk mendekati Anies. Kenapa harus Anies? Karena dalam beberapa hari terakhir sudah terlihat kalau kedua pasangan calon ini menyuarakan isu yang sama yaitu memilih pasangan calon muslim.
Tapi apakah mungkin mendekat ke Ahok? “Rasanya berat karena penentuannya ada di Demokrat yang mana kali ini Susilo Bambang Yudhoyono sedang kritis terhadap pemerintahan Jokowi.”

Jadi, menurut pemikiran Aditya akan ada koalisi dengan Agus. Namun strategi Anies tentu tidak akan jauh berbeda dengan apa yang sudah dilakukan mungkin akan jauh lebih intensif. “Tapi menurut saya kampanye di sosmed yang akan dimaksimalkan,” Aditya menambahkan kembali.

Bicara soal peluang Anies-Sandi untuk bisa menjungkalkan kuatnya petahana, bagi Aditya kalau menyinggung kans sebenarnya masih terlalu dini karena hasil resmi penghitungan suara belum diumumkan oleh KPUD DKI. “Tapi saya merasa peluangnya sama besarnya nanti. Kita lihat saja nanti hasilnya.”





(obs)

ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar