Logo Kursi Panas DKI 1

Suara Golput Pilkada DKI Lebih Besar Dibanding Pendukung Agus

Lalu Rahadian
Sabtu, 18/02/2017 15:51 WIB
Suara Golput Pilkada DKI Lebih Besar Dibanding Pendukung Agus Seorang warga memasukkan kertas suara ketika mengikuti simulasi pemungutan suara pilkada DKI Jakarta di Pulau Pramuka, kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (4/2). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya pada Pilkada DKI, Rabu (15/2), mencapai 1.668.902 orang. Pemilih golongan putih (golput) bahkan lebih besar dari perolehan suara pasangan calon nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Lembaga Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menyarankan pasangan calon gubernur yang lolos ke putaran kedua sebaiknya menarik dukungan kelompok golput, daripada berupaya mendapat limpahan suara pasangan calon yang gugur.

Pasangan Agus-Sylvi diketahui mendapat 936.609 suara dan menjadi peserta Pilkada DKI yang paling sedikit memperoleh dukungan berdasarkan hasil rekapitulasi data formulir C1 dari Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta.


"Sebaiknya mengarahkan perhatian kepada pemilih yang belum menggunakan haknya di TPS. Mereka sesungguhnya punya pilihan, namun tak cukup yakin datang ke TPS. Meyakinkan itu kunci utama kemenangan pasangan calon," kata Koordinator Nasional JPPR Masykurudin Hafidz di Kantor Bawaslu RI, Sabtu (18/2).

Analisis JPPR menyebutkan, angka golput saat Pilkada ibu kota paling banyak ditemui di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Ada 35 persen pemilih yang tak menggunakan hak suaranya di sana.
Infografis insert hasil pilkada DKI versi real count KPU.Infografis insert hasil Pilkada DKI versi real count KPU. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Selain Johar Baru, angka golput juga tinggi di kawasan Kebayoran Baru, Setiabudi, Sawah Besar, dan Menteng. Ada 30 hingga 28 persen pemilih yang tak datang ke TPS dari empat kecamatan itu.

Sementara, golput terendah ada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Hanya 17 persen pemilih di sana yang tak menggunakan suaranya saat hari pemilihan.


Angka golput di putaran kedua Pilkada DKI diprediksi naik jika partai politik pendukung cagub dan cawagub yang tersingkir tak menentukan dukungan ke peserta tersisa. Partisipasi bisa meningkat seandainya tim kampanye dari masing-masing paslon dapat bergerak efektif merebut hati pemilih yang belum menggunakan haknya.

"Di Pilkada, kekuatan, kemampuan, strategi paslon bersama tim kampanye jauh lebih menentukan daripada pernyataan atau sikap dari parpol. Pendukung Agus-Sylvi juga berkontribusi terhadap golongan putih, karena pilihan pertamanya berpotensi tidak masuk putaran dua," katanya.

Hasil rekapitulasi formulir C1 KPU DKI diketahui, pemenang Pilkada DKI putaran pertama adalah Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Ahok-Djarot mendapat 42.91 persen suara, atau 2.357.587 dari 5.563.425 pemilih di Pilkada DKI. Sedangkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno meraih 40.05 persen atau 2.200.636 dukungan.


Jika hasil penghitungan manual KPU DKI berbeda tipis dengan unggahan formulir C1, dipastikan Pilkada DKI akan digelar dua putaran. Sebabnya, tak ada cagub dan cawagub yang meraih suara 50 persen plus satu. (pmg)

ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar