Logo Kursi Panas DKI 1

Todung Samakan Penggusuran Ahok dengan Era Ali Sadikin

Suriyanto
Sabtu, 08/04/2017 14:12 WIB
Todung Samakan Penggusuran Ahok dengan Era Ali Sadikin Pengacara Todung Mulya Lubis bela Ahok soal penggusuran di Jakarta. (ANTARAFOTO/Idhad Zakaria)

Jakarta, CNN Indonesia -- Pengacara Todung Mulya Lubis membela Basuki Tjahaja Purnama atas tindakan penggusuran yang dilakukan di DKI Jakarta. Menurutnya, jika memang penggusuran untuk memberika kesejahteraan, kebahagiaan dan keadaan yang lebih baik, tidak ada salahnya dilakukan.

Hal ini disampaikan Todung dalam sebuah rekaman di Youtube yang diunggah akun Jakarta Progresif. Video berdurasi 1 menit dan satu detik itu diunggah hari Rabu (6/4) lalu.

"Pengusuran itu adalah kata yang jahat," kata Todung mengawali pernyataanya. Namun jika secara objektif untuk kebaikan warga, ia menilai mengapa tidak dilakukan.

"Ali Sadikin dulu melakukan hal yang sama," ujarnya.

Bagi Todung, penduduk yang tinggal di bantaran sungai tak mungkin bisa hidup sehat. Selain itu, mereka juga tidak bisa hidup tenang karena akan selalu dikejar Satuan Polisi Pamong Praja karena hidup di tanah negara.

"Karena mereka penduduk gelap tanpa izin," katanya.
Todung Samakan Penggusuran Ahok dengan Era Ali SadikinPenggusuran rumah pinggir Sunga Ciliwung di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Agustus 2015.  (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Bahkan secara hukum, kata Todung, warga bantaran sungai bisa saja dipindahkan begitu saja tanpa ada ganti rugi dari pemerintah. Namun meski begitu, pemerintah punya tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya, termasuk mereka yang hidup di pinggir kali.

Cara penggusuran dilakukan Ahok, sapaan Basuki, menurut Todung tepat dengan memanusiakan warga korban penggusuran itu. Mereka dipindahkan ke rumah susun sehingga bisa mendapat akses air bersih, listrik, sekolah dan lingkungan yang lebih baik.
"Sebagai warga negara, kita mesti memberikan apresiasi terhadap usaha itu karena bisa memberikan masa depan yang lebih baik pada mereka," kata Todung.

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta mencatat pada tahun 2015 ada 113 kasus penggusuran paksa oleh Ahok. Penggusuran itu merugikan 8.315 kepala keluarga dan 600 unit usaha. Sebanyak 84 persen penggusuran dilakukan secara sepihak.
Sebagai warga negara, kita mesti memberikan apresiasi terhadap usaha itu karena bisa memberikan masa depan yang lebih baik pada merekaTodung Mulya Lubis

Sementara sepanjang 2016, setidaknya ada lima kasus penggusuran di ibu kota yang menarik perhatian. Penggusuran tersebut terjadi Kalijodo, Pasar Ikan. Pulomas, Rawajati, dan Bukit Duri.

Sementara dalam waktu dekat ini, Ahok sudah merencanakan akan menggusur tiga tempat yakni Cipinang Melayu, Bukit Duri, dan Gang Arus Cawang.
Terkait dengan akun pengunggah video Todung, Jakarta Progresif, disebutkan akun ini tidak berafiliasi dengan kampanye pasangan Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta. "Dipersembahkan karena kami perduli," demikian tertulis dalam keterangan aku tersebut di Youtube.

Sejak 5 April lalu, akun ini sudah menggungah tiga video. Todung sendiri jadi pengisi di video kedua.

Video pertama berupa penyataan dari keluar artis: Ade Irawan, Ria Irawan dan Dewi Irawan soal kepemimpinan Ahok selama dua tahun terakhir di Jakarta.

Video terbaru yang diunggah hari ini diisi oleh artis film Lola Amaria. Ia memberikan pernyataan soal program sumbangan fasilitas publik oleh perusahaan swasta di Jakarta yang digagas Ahok.

[Gambas:Youtube] (sur/asa)

ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar