Menurut Sumarsono, keluhan Sunarto, salah seorang warga Rusun Jatinegara yang mengaku resah dengan unit rusun yang dihuninya karena rusak dan bocor, bukan berarti seluruh warga yang menghuni rusun di Jakarta tidak bahagia.
"Dari jumlah 10 ribu penghuni, kalau yang ngomong hanya dua atau tiga orang, kan tidak bisa kita katakan (seluruhnya). Hasil evaluasi kami, lebih dari 90 persen penghuni rusun mengatakan sangat happy," kata Sumarsono di Balai Kota, Kamis (13/4).
"Karena biaya perawatan rusun itu diambil dari iuran mereka. Sementara, masih banyak yang belum melunasi iuran. Jadi, bagaimana bisa lingkungan dijaga?" kata Sumarsono.
Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri itu menduga ada faktor budaya yang membuat penghuni rusun tak betah. Persoalan ini, menurutnya, cuma soal waktu.
Ahok sendiri telah menanggapi keluhan perwakilan warga Rusun Jatinegara tersebut. Dia mengakui kualitas rusun di kawasan tersebut memang buruk dan tak dapat menutupi fakta bahwa hampir 30 persen penghuni rusun tak mampu membayar sewa.
Namun, ia menegaskan, uang yang dibayarkan warga setiap bulan semata digunakan untuk biaya perawatan atau retribusi lingkungan.