"Kalau dari data yang kita pakai, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), peningkatannya sekitar 1 persen," kata Kepala BKKBN Fasli Djalal saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (29/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fasli mengatakan perempuan yang melakukan aborsi di daerah perkotaan besar di Indonesia umumnya berusia remaja dari 15 tahun hingga 19 tahun. Umumnya, aborsi tersebut dilakukan akibat kecelakaan atau kehamilan yang tidak diinginkan.
Peningkatan angka aborsi tersebut, katanya, disebabkan oleh meningkatnya angka pernikahan usia dini terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Selain itu, kegiatan seks bebas serta lemahnya pemahaman mengenai seks menjadi pemicu meningkatnya aborsi di Indonesia.
Mantan wakil menteri Kementerian Pendidikan Nasional tersebut mengatakan sebanyak 52 persen dari anak muda Indonesia berpikir kehamilan tidak akan disebabkan dari kegiatan berhubungan seksual untuk pertama kali.
"Padahal, kenyataannya, kan, tidak demikian. Mereka yang tidak siap karena kehamilan lantas mencari aborsi,"kata dia.
Sementara itu, Suryo Darmono dari Rumah Sakit Carolus mengatakan tindakan aborsi banyak yang dilakukan secara mendadak serta tanpa sepengetahuan orangtua remaja bersangkutan. Alhasil, remaja perempuan menjadi traumatik dengan tindakan aborsi tersebut.
"Muncul rasa bersalah dari mereka. Kenapa sudah membunuh nyawa orang lain. Ujung-ujungnya depresi," kata dia.
Selain traumatik, tindakan aborsi tanpa prosedural yang benar atau dilakukan oleh orang yang tidak profesional, hanya akan berdampak pada gangguan kecacatan janin bersangkutan.
"Alih-alih kandungan gugur, bayinya malah cacat," dia menjelaskan.
Untuk mengurangi angka aborsi sendiri, kata Fasli, BKKB mengadakan kerjasama dengan satuan unit pendidikan di 9.000 unit Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 30 ribu universitas swasta serta negeri untuk membuka pelatihan edukasi seksual kepada remaja.