Firman berhasil lolos dari insiden itu, dengan sedikit luka di tubuhnya. Perlu kematangan seorang pilot untuk bisa tetap tenang agar bisa lolos dari situasi itu. Tampaknya, ketenangan itu didapatkan lelaki asal Surabaya lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1996 ini berkat jam terbangnya bersama F-16 yang tinggi. TNI sudah menyebut bahwa kegagalan ini bukan karena human error. (Baca juga: Penyebab Insiden F-16 Bukan Human Error, TNI AU Bentuk Tim).
Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Agus Supriatna dalam konferes pers di Mabes TNI Cilangkap menyatakan Firman adalah pilot yang baik. "Dia (Firman) itu boleh dibilang murid saya langsung. Saya pernah komandan dia saat di Yogyakarta. Profil dia, bisa disebut sebagai yang kedua terbaik," kata Agus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pencapaian 2.000 jam terbang sebagai pilot pesawat tempur F-16 adalah kebanggaan tersendiri. Karena itu, Foxhound mendapatkan penyebatan badge 2.000 jam terbang dan siraman air kembang oleh Komandan Wing 3 waktu itu, Kolonel PnB Minggit Tribowo. (Baca Fokus: F-16 Terbakar di Halim)
Bukan hanya kemampuan teknis menerbangkan pesawat tempur saja yang dimiliki Foxhound. Lelaki berusia 41 tahun ini juga memiliki pengetahuan soal strategi dan kebijakan yang bagus. Pada 2011 dia meraih gelar Master of Arts dari University of New South Wales untuk bidang strategi dan kebijakan. Saat dia bersekolah di sana, dia juga masuk di Australian Defence College untuk kursus komando dan staf.
Sejak 3 Desember 2014, dia menjadi Komandan Skadron Udara 16 di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Foxhound juga adalah komandan pertama Skadron Udara 16 yang mengoperasikan pesawat F-16 C/D. (hel)