logo CNN Indonesia

Liputan Khusus

Suasana Genting di Cendana Malam Jelang Kejatuhan Soeharto

, CNN Indonesia
Suasana Genting di Cendana Malam Jelang Kejatuhan Soeharto Presiden RI kedua, Soeharto. (Getty Images/Maya Vidon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yusril Ihza Mahendra masih ingat jelas bagaimana ketegangan yang menyelimuti Cendana pada 20 Mei 1998, malam jelang kejatuhan Presiden Soeharto. Pakar hukum tata negara itu menginap sepekan lebih di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Ia kerap dimintai pendapat oleh Soeharto. (Baca: Gelisah Soeharto Jelang Kejatuhannya)

Sore 20 Mei itu, menteri-menteri Soeharto mundur. Sekitar pukul 14.30 WIB, sebanyak 14 menteri bidang ekonomi menggelar pertemuan di Gedung Bappenas dan memutuskan tak bersedia duduk di Komite Reformasi maupun Kabinet Reformasi hasil perombakan Soeharto atas Kabinet Pembangunan VII.

Keputusan itu kemudian mereka sampaikan kepada Soeharto melalui sepucuk surat, tak langsung secara lisan. Di sinilah kesalahpahaman sempat terjadi.

“Saat itu Pak Harto mengecek kabar mundurnya para menteri ke Mbak Tutut (putri sulung Soeharto). Lalu Pak Harto bilang, kabar menteri mundur itu tak betul,” kata Yusril. Suasana di Cendana malam itu memanas menit demi menit.

Yusril sendiri telah sepekan lebih menginap di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Ia tak pulang ke rumah. “Rumah Pak Harto dijaga ketat. Sedikit yang bisa masuk, termasuk saya dan Panglima ABRI Wiranto,” ujar dia kepada CNN Indonesia, Rabu malam (20/5).

Malam kian pekat, dan Soeharto memanggil wakilnya, BJ Habibie, serta para mantan wakil presiden untuk datang ke Cendana, termasuk Try Sutrisno dan Umar Wirahadikusumah. Mereka menggelar pertemuan membahas situasi terkini.

Saat itu Yusril memutuskan untuk keluar dulu dari Cendana guna berganti pakaian. Selama seminggu lebih menginap di Cendana, Yusril menaruh pakaiannya di Jalan Pekalongan yang masih berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya bilang ke Pak Habibie dan Pak Wiranto mau ganti baju. Saya juga lapar, belum makan di rumah Pak Harto,” ujar Yusril.

Yusril tiba di Jalan Pekalongan sekitar pukul 21.00 WIB. Namun baru saja dia mau makan, Akbar Tandjung dan Tanri Abeng datang. Keduanya merupakan Menteri Soeharto yang mundur dan tak mau bergabung dengan Kabinet Reformasi.

Kopassus ditarik ke Jakarta

Akbar dan Tanri langsung bertanya soal Soeharto kepada Yusril. “Bagaimana keadaan Cendana? Cuma kamu yang bisa masuk ke sana,” kata Yusril menirukan ucapan Akbar Tandjung kepadanya.

Yusril pun menjelaskan kepada mereka bahwa situasi di Cendana sudah genting. “Saya khawatir. Tentara di mana-mana, siap siaga. Sepertiga kekuatan TNI (saat itu ABRI) ada di Jakarta hari ini. Anggota Kopassus dari daerah-daerah seperti Makassar dan Banten ditarik ke Jakarta. Kalau ada pemicu sedikit, bisa terjadi perang saudara,” ujar Yusril. (Baca juga: Yusril dan Prabowo Cegah Amien Rais Bawa Mahasiswa ke Istana)

Akbar Tandjung dan Tanri Abeng lantas bertanya bagaimana reaksi Soeharto atas surat pengunduran diri para menteri yang disampaikan sore harinya. Yusril pun kaget karena baru saja ia mendengar dari mulut Soeharto bahwa isu menteri-menteri mundur adalah tak benar.

Ketika Yusril menceritakan Soeharto tak tahu kabar itu benar, giliran Akbar dan Tanri terkejut. “Menteri-menteri memang mundur. Ini benar, kami mundur,” kata mereka.

Yusril pun tak bisa menikmati makan malamnya lagi. “Kesalahpahaman ini harus saya cegah,” ujarnya sambil langsung kembali ke Cendana dan melaporkan peristiwa yang sebenarnya seperti diucapkan Akbar dan Tanri kepadanya.

Selengkapnya di FOKUS: Mengingat Kembali Reformasi

Yusril berpikir, salah paham mungkin terjadi karena surat dari para menteri itu hanya tergeletak di atas meja dan belum dibaca oleh Soeharto. Akhirnya Soeharto membaca surat tersebut di dalam kamar.

Usai membaca surat, Soeharto keluar kamar. “Pak Harto merenung sambil menepuki kaki, lalu berkata, ‘Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti’,” ujar Yusril mengulang ucapan Soeharto kepadanya.

Sang jenderal besar itu kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya, sementara Yusril dan rekan-rekannya kelimpungan menyusun pidato pengunduran diri Soeharto.

Simak proses penyusunan pidato yang dibacakan Soeharto di hari kejatuhannya, 21 Mei 1998 di laporan berikutnya. (agk)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Mengingat Kembali Reformasi
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video