logo CNN Indonesia

Agus Harimurti dan Mimpi Sang Kakek Sarwo Edhi

, CNN Indonesia
Agus Harimurti dan Mimpi Sang Kakek Sarwo Edhi
Jakarta, CNN Indonesia -- “Pengalaman selama satu tahun di Fort Leavenworth sangat berharga bagi saya, karena lembaga ini tidak hanya memberikan pendidikan mililter tapi juga membawa saya pada proses menjadi pejabat, manusia dan pemimpin yang lebih baik.”

Pernyataan tadi terlontar dari mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Desember 2005 silam, saat ia mendapatkan penghormatan untuk menjadi satu dari kurang lebih 200 lulusan US Army Command and General Staff College, Fort Leavenworth, yang namanya masuk ke International Hall of Fame. Ketika itu, SBY baru setahun memimpin negara yang di kemudian hari disebutnya memiliki beragam persoalan rumit.  

Mengutip pidato SBY sebagaimana diarsipkan Institut Pertahanan dan Manajemen Sekuriti yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat, SBY merupakan perwira Indonesia keenam yang berkesempatan mengeyam pendidikan di Fort Leavenworth.

Sebelum SBY, ada nama-nama seperti Ahmad Yani, Surono Reksodimedjo, Raden Widodo dan Raden Hartono. Sejarah mencatat, perwira pertama hingga perwira keenam Indonesia yang lulus dari Fort Leavenworth memperoleh bintang empat ketika mengakhiri masa pengabdian mereka institusi kemiliteran.

Lebih dari itu Yani hingga Hartono bahkan pensiun sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Jabatan tersebut tidak pernah dirasakan SBY karena saat pensiun dari TNI, SBY berstatus sebagai Kepala Staf Teritorial TNI.

Desember tahun lalu, SBY bersama isterinya, Kristiani Herawati, kembali ke Fort Leavenworth. SBY datang bukan untuk menerima penghargaan, namun mengunjungi putra pertamanya, Agus Harimurti.

Darah militer yang kental memang mengalir di setiap pembuluh nadi Agus. Perwira menengah yang kini berpangkat mayor itu meneruskan jejak ayah, paman, dan kakeknya di TNI Angkatan Darat. (Baca juga: Putra Sulung SBY Raih Dua Gelar di AS dengan IPK 4)

Agus tercatat sebagai lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang, pada tahun 1997. Tiga tahun kemudian ia mengulangi prestasi ayahnya: lulus dari Akademi Militer dengan menyandang gelar Adhi Makayasa.

Bermula dari Sarwo

Kronik keluarga militer SBY tentu tidak dapat dipisahkan dari kisah Letnan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Sarwo merupakan mertua SBY alias ayah dari Ani, isterinya.

Nama Sarwo sendiri lekat dengan pelbagai pemberangusan mereka yang disebut berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia. Ketika itu, usai peristiwa G-30-S, Sarwo merupakan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Jabatan tersebut diperoleh Sarwo, salah satunya, karena kedekatannya dengan Ahmad Yani.Yani, perwira Indonesia pertama yang bersekolah di Fort Leavenworth, tewas pada tragedi G-30-S saat memegang jabatan Komandan TNI Angkatan Darat (kini disebut KSAD).

Kedekatan Sarwo dan Yani bermula pada perang kemerdekaan. Tatkala memimpin Batalyon III Badan Keamanan Rakyat, Yani mengajak Sarwo yang masih belia bergabung.

Awal periode 1960-an, Yani meminta Sarwo memimpin RPKAD. Keputusan itu kontroversial karena Sarwo tidak memiliki latar belakang pendidikan komando. Di sisi lain, calon kuat Komandan RPKAD lainnya, yaitu Leonardus Benyamin Moerdani (Panglima ABRI era 1983 hingga 1988), ketika itu merupakan Komandan Batalyon I RPKAD.

Usai sukses memimpin RPKAD menumpas mereka yang disebut kiri, Sarwo ditugasi memimpin Kodam I Bukit Barisan di Medan. Setelah itu ia pindah ke Papua ketika dijadikan Panglima Kodam XVII Cendrawasih.

Pulang dari Papua, Sarwo ditunjuk menjadi Gubernur Akabri (kini Akmil). Disebut memiliki jabatan yang tidak strategis, Sarwo berpandangan lain. Ani dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit menuturkan, ayahnya seperti mendapatkan pelabuhan jiwa.

Ani berkata, Sarwo tidak merasa dikucilkan meskipun tidak lagi dipercaya memimpin komando utama TNI AD. Menyamakan dirinya dengan bekas orang nomor satu di Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal Besar Douglas McArthur, Sarwo bangga ditugaskan untuk mendidik calon pemimpin tentara. (Baca juga: Putra Sulung SBY Raih Dua Gelar di AS dengan IPK 4)

Kurang dari setahun setelah dipindahtugaskan ke Akabri, Magelang, Jawa Tengah, SBY lulus dari lembaga pendidikan itu dengan predikat terbaik.

Generasi Ketiga

Sarwo dan SBY tidak sempat merasakan jabatan tertinggi di TNI, setidaknya di TNI AD. Pramono Edhie Wibowo, anak kelima Sarwo alias adik ipar SBY, memiliki takdir yang berbeda. Lulusan Akabri tahun 1980 ini tahun 2011 silam diangkat SBY menjadi KSAD ke-27.

Putusan tersebut mengundang pro dan kontra. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan misalnya, menyebut penunjukan SBY terhadap Pramono kental nuasa nepotisme.

Kontras ketika itu menilai Pramono tidak lebih berkualitas dibandingkan dua calon kuat lainnya, Budiman (belakangan menjadi KSAD ke-29) dan Marciano Norman (tahun 2011 ditunjuk SBY menjadi Kepala Badan Intelijen Negara).

Serupa dengan ayahnya, Sarwo juga pernah memimpin Komando Pasukan Khusus TNI AD (dulu bernama RPKAD). Tak sampai setahun dipromosikan sebagai Pangdam III Siliwangi, Pramono lalu ditunjuk menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD.

Setelah pensiun sebagai perwira tinggi TNI, Pramono masuk ke pusaran politik melalui Partai Demokrat, kendaraan politik yang didirikan SBY jelang pemilihan presiden tahun 2004.

Jelang turunnya SBY, Pramono mengikuti konvensi calon presiden yang digelar Demokrat. Dari sepuluh peserta, Pramono dinyatakan menempati peringkat kedua, di bawah Dahlan Iskan, menteri Badan Usaha Milik Negara era SBY. Sayang, keduanya tak banyak bicara pada pilpres tahun 2014 lalu.

Agus Menuju Puncak

“Ini adalah tahun terbaik dalam hidup saya,” ungkap SBY saat dikukuhkan sebagai tokoh International Hall of Fame di Fort Leavenworth, mengulang perasaannya ketika diterima di almamater beberapa jenderal besar US Army seperti Dwight Eisenhower dan Collin Powell.

Ungkapan SBY tersebut mungkin dapat dimaklumi banyak pihak. Mayoritas lulusan Fort Leavenworth memang mengakhiri karier militer mereka dengan pangkat jenderal.

Karier Agus di TNI memang masih belia, namun layak disebut telah berada di jalur yang tepat. Enam tahun setelah lulus dari Akmil, Agus bergabung ke Kontingen Garuda XXIII-A yang menjadi bagian dari pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon. Pada tahun 2006 itu, Agus bertugas sebagai Kepala Seksi Operasi Batalyon Mekanis.

Setahun kemudian Agus dipromosikan menjadi Komandan Kompi Batalyon Infranteri Lintas Udara 305 Tengkorak, Karawang. Tahun 2012 lalu, Agus kembali naik jabatan menjadi Kepala Seksi Operasi Brigade Infanteri Linud 17 Kujang, Sukabumi.

Rabu (5/8) kemarin, Komandan Komando, Pendidikan dan Latihan Mayor Jenderal Agus Sutomo mengumumkan Agus telah mendapatkan penugasan baru, yakni menjadi Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203 Arya Kemuning, Tangerang. (Baca juga: Putra SBY Diangkat Jadi Komandan Batalyon Arya Kemuning)

“Itu sudah masanya, kan habis sesko (sekolah komando),” ujar Agus Sutomo saat ditemui di Lapangan Tenis Markas Kodam Jaya, Jakarta, kemarin.

Secara khusus, Komandan Kodiklat itu berharap putra pertama SBY itu dapat menggunakan ilmu dari Fort Leavenworth untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme prajurit Batalyon Arya Kemuning.

Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti mengungkapkan, tidak sedikit putra mantan jenderal yang berprestasi sehingga laik mendapatkan kenaikan pangkat dan jabatan dengan cepat.

Namun, Poengky juga melihat beberapa anak jenderal meniti karier militer dengan gemilang karena nepotisme. “Ada juga yang dikatrol karena anak petinggi militer padahal tidak berprestasi,” ujarnya kepada CNN Indonesia, malam kemarin.

Menurut Poengky, praktek nepotisme seperti itu dapat melemahkan TNI dari dalam. Di sisi lain, hal tersebut justru menunjukan bahwa reformasi TNI masih belum tuntas. “Kenaikan pangkat dan jabatan harus berdasarkan merit system agar TNI lebih profesional dan kuat,” ucapnya.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video