Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Ade Supendi, mengatakan dua kapal tersebut adalah KRI Banda Aceh dan KRI Teluk Jakarta. Pada operasi selain perang, dua kapal tersebut biasa digunakan untuk misi kemanusiaan.
"Kami menyiapkan dua LPD, khusus untuk penanganan ISPA (penyakit infeksi pernfasan akut). Panglima TNI juga menyuruh kami mempersiapkan KRI Soeharso," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Jumat (23/10).
Ade menuturkan, tak hanya mengerahkan kapal, TNI juga akan menerjunkan tim kesehatan yang lengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga yang sakit nantinya akan langsung mendapatkan penanganan medis setibanya di KRI. Ade mengatakan, ketika kondisi kesehatan warga tersebut mulai membaik, dia akan dikembalikan ke darat untuk bergantian dengan mereka yang terkena ISPA dan belum mendapatkan perawatan.
"Kami akan menyesuaikan, tergantung BNPB dan BMKG. Yang jelas ke daerah membutuhkan evakuasi dan menuju daerah udaranya cukup segar," ujar Ade.
Ade mengatakan, institusinya tidak dapat menentukan target waktu pelaksanaan program evakuasi tersebut. Yang jelas, menurutnya, evakuasi akan terus berlangsung sebelum kabut asap benar-benar berkurang dan dapat dikendalikan.
Di tempat yang sama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan para dekan fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi. Natsir mengambil langkah itu untuk mendukung proeses evakuasi.
"Hari ini mereka sudah action dan besok sudah harus langsung mengambil tindakan ke lapangan dengan menggunakan peralatan kesehatan yang ada di daerah," ucapnya.
Selain itu, Kemenristekdikti juga akan membagikan penjernih udara ke tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Palembang, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim.
"ITB dan Undip sudah ada air purifier. Kami sudah suruh mereka memproduksi sebanyak-banyaknya," kata Nasir. (meg)