“Menurut saya, AW101 bagus, cuma mungkin terlalu bagus. Membeli helikopter VVIP ini ibarat memilih mobil pejabat, mau Mercy atau Rolls-Royce? Dua-duanya bagus, tapi salah satu terlalu bagus,” kata Gerry kepada CNN Indonesia, Rabu (25/11).
Secara terpisah, anggota Komisi I Tubagus Hasanuddin mengatakan harga helikopter VVIP AgustaWestland AW101 yang dipilih TNI terlalu mahal, yakni US$55 juta atau setara dengan Rp752 miliar lebih. (Simak Fokus: HELIKOPTER UNTUK PRESIDEN)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lisensi EC225 memang dipegang oleh Airbus Helicopter yang bermarkas di Perancis, namun desain dan produksinya ditangani oleh PT DI.
EC225 antara lain digunakan oleh Argentina, Perancis, Jepang, Oman, China, dan Vietnam untuk keperluan militer; serta Aljazair, Kanada, Malaysia, Spanyol, dan Inggris untuk keperluan sipil. Sementara AW101 untuk VVIP dioperasikan oleh Arab Saudi, Aljazair, Nigeria, dan Turkmenistan.
AgustaWestland AW101 merupakan helikopter pabrikan perusahan gabungan Inggris dan Italia. Helikopter yang memiliki teknologi mutakhir dengan desain interior mewah dan nyaman itu akan difungsikan sebagai kendaraan operasional pejabat tinggi negara di RI, termasuk tamu negara selevel presiden dan wakil presiden.
TNI sudah merencanakan pembelian helikopter VVIP sebelum Jokowi dilantik sebagai Presiden RI pada Oktober 2014. TNI menargetkan memiliki enam helikopter VVIP yang pengadaannya dilakukan bertahap sesuai kemampuan anggaran pemerintah RI.
TNI tak hanya menggelar pengadaan helikopter VVIP, tapi juga helikopter serbu dan helikopter antikapal selam. Seluruh pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) itu masuk Rencana Strategi TNI 2015-2019.