Pertanyaan yang muncul kemudian adalah jika yang meninggal benar adalah Santoso, maka apa pengaruh kematiannya bagi terciptanya perdamaian di Poso?
Pengamat terorisme dari The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya dalam siaran pers, Selasa (19/7), menyampaikan lima analisis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika benar Santoso meninggal tentu sangat berpengaruh signifikan pada eksistensi kelompok sipil bersenjata tersebut. Sisa-sisa kelompok Santoso sangat mungkin terdiaspora, memudar menyerahkan diri atau melakukan aksi nekat balasan secara sporadis," kata Harits.
Ketiga, Harits berharap tidak ada lagi 'Santoso-Santoso' baru yang muncul karena pilihan pribadi dengan latar belakang dendam atau kreasi dari kelompok tertentu karena visi politiknya ke depan.
"Atau karena kesengajaan pihak tertentu membranding "Santoso baru" dengan narasi yang berlebihan agar drama war on terrorism terus berjalan kontinyu," katanya.
"Karena rakyat Poso butuh ketenangan lahir batin, masyarakat butuh hidup normal dalam aspek perekonomian dan aspek lainnya. Yang lebih penting, masyarakat Poso tidak ingin daerahnya dilabeli basis teroris terus menerus," katanya.
Terakhir, meninggalnya Santoso menjadi pelajaran bagi Pemerintah Indonesia agar menggunakan pendekatan disengagement of violence atau menjauhkan seseorang dari aksi-aksi kekerasan dan meninggalkan metode enforcement atau penindakan.
"Oleh karena itu tantangan ke depan adalah bagaimana mengkonstruksi sikap yang proporsional dengan itu lebih utama disengagement of violence dibanding bicara enforcement," katanya.
Di tempat terpisah, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla mengatakan, permasalahan di wilayah pegunungan di Sulawesi Tengah akan selesai jika Santoso benar tewas.
"Ini masih menunggu kepastian DNA, kalau itu berhasil artinya kita bisa selesaikan masalah di Poso," kata Jusuf Kalla saat ditemui di Asrama Haji, Pondok Gede, Selasa (19/7). (rel)