logo CNN Indonesia
aulia.pratama

Lulusan jurnalistik yang memulai kariernya di CNNindonesia.com sejak Agustus 2014. Ditugaskan mengawal isu politik dan memiliki impian menjadi wartawan kanal olahraga. Menikmati permainan Manchester United untuk menghilangkan penat.

Temanku Seorang 'Alumnus' HTI

, CNN Indonesia
Temanku Seorang 'Alumnus' HTI
Jakarta, CNN Indonesia -- Hizbut Tahrir Indonesia, nama yang baru populer di telinga saya pada medio 2012-2013. Bukan karena macam-macam, melainkan karena teman saya sendiri mendadak masuk ke organisasi yang akrab disapa HTI tersebut.

Niat awal sang teman masuk ke HTI bukan karena ideologi mereka yang ingin Khilafah berjaya, melainkan murni untuk tugas kuliah belaka saat di Bandung. Kebetulan saat itu, salah satu mata kuliah mengharuskan si mahasiswa membuat laporan mendalam, dan teman saya memilih HTI sebagai objeknya.

Dia adalah muslim yang taat, meski dalam beberapa kesempatan masih memperlihatkan kenakalan. Istilah yang populer saat itu adalah STMJ atau Salat Terus Maksiat Jalan.

Berbulan-bulan berlalu, mata kuliah itu selesai dan tugas pun dikumpulkan. Saya tak sempat membaca hasil laporan tugas soal HTI itu karena saya juga sibuk dengan tugas sendiri.

Saya hanya beranggapan, saat tugas selesai, teman saya tak lagi menjadi bagian dari organisasi itu.

Namun anggapan itu keliru.

Ini bisa terlihat dari obrolan warung kopi yang berubah drastis. Awalnya, membahas tugas kuliah dan koleksi film porno menjadi tugas kuliah dan bobroknya sistem pemerintahan di Indonesia. 

“Sistem di Indonesia ini harus diubah. Diubah menjadi khilafah," kata dia berulang ulang.
Temanku Seorang 'Alumnus' HTI (EMBARGO)Salah satu aktivitas Hizbut Tahrir Indonesia. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
HTI secara umum ingin membangkitkan kembali kejayaan Islam melalui Khilafah.

Mereka ingin pemimpin agama dan pemerintahan jadi satu. Organisasi itu berkukuh bahwa khilafah harus ditegakkan di seluruh dunia dengan dalih lebih adil bagi semua orang, termasuk untuk non-muslim sekali pun.

Teman saya mengatakan zaman Nabi Muhammad SAW banyak umat non-muslim yang tetap hidup damai meski sistem pemerintahan di sana khilafah. Patokan itulah yang tetap dijaga sampai sekarang.

Apakah hanya ucapan belaka? Tentu tidak. 

Ada satu waktu, dia mendatangi saya dan memberikan sebuah buku yang ternyata itu adalah Undang-Undang Dasar yang berdasarkan pada sistem Khilafah, bukan pada Pancasila.

Di situ semuanya sudah lengkap, mulai dari aturan hingga hukum yang harus ditegakkan jika nantinya sistem khilafah benar-benar berjalan.

Saya yang tidak tertarik dengan semua itu, mengabaikan isi dari buku tersebut. Saya hanya tertawa dan mengembalikan buku itu pada teman saya.

Bukan hanya saya yang menertawakan itu, teman teman yang lain pun melakukan hal yang sama.

Bahkan setiap ada pembicaraan mengenai Islam dan dia menghubungan dengan HTI, lontaran candaan tetap dikeluarkan seakan mengejek apa yang dia ucapkan.

Namun dia tetap tersenyum. Dia tetap berpegang bahwa apa yang dia dapatkan di HTI memang benar dan itulah yang bisa menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. 

Pembubaran oleh Pemerintah

Lama tak berjumpa pasca saya hijrah ke DKI Jakarta dan dia kembali ke kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat, kabar pembubaran HTI pun digaungkan oleh pemerintah.

Pada 8 Mei lalu, melalui Menko Polhukam Wiranto, pemerintah menganggap HTI sebagai organisasi masyarakat yang terindikasi kuat bertentangan dengan Pancasila serta UUD 1945 seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas.

Bahasa mudahnya, pemerintah menilai HTI sebagai ormas yang anti-Pancasila dan harus dibubarkan.

Sontak saya langsung mencoba menghubungi teman saya itu untuk setidaknya mengetahui respons atas niat pembubaran tersebut.

Tak hanya itu, saya pun ingin tahu apa yang dia rasakan saat tahu organisasi tempatnya bernaung dianggap anti Pancasila, yang secara tak langsung berarti dia pun dicap anti Pancasila.
Temanku Seorang 'Alumnus' HTI (EMBARGO)Menkopolhukam Wiranto saat mengumumkan pembubaran HTI pada 8 Mei lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sayangnya tak pernah ada balasan dari teman saya tersebut atas pertanyaan yang diajukan padanya. Hingga pada akhir pekan lalu, saya pun bertemu dengannya di Ibukota dan pertanyaan yang tak terjawab itu kembali saya lontarkan.

"Gue sudah bukan HTI lagi, kan sudah dibubarin ha ha ha."

"Oh iya benar juga.”

Kira-kira begitu percakapan singkat soal HTI hari itu. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap pemerintah yang ingin membubarkan organisasi
tempatnya bernaung.

Saya pun melontarkan pertanyaan, "respons yang lain bagaimana?"

Dia pun menjawab, "Banyak yang senang dengan ini, seakan menjadi promosi gratis bagi HTI. Ketik saja 'apa itu' di Google, nomor duanya pasti HTI."

Teman saya menuturkan, sebagian anggota HTI bangga bahwa organisasi itu menjadi tenar. Orang-orang jadi ingin tahu apa itu HTI dan itu dianggap menjadi promosi gratis bagi mereka semua.

Saya memang bukan bagian dari HTI.

Hanya seseorang yang memiliki teman yang kebetulan adalah anggota atau 'alumni' HTI.

Pertemanan sejak lama membuat saya hafal dengan apa-apa saja yang dia katakan terkait dengan ajaran Islam dan hubungannya dengan khilafah.

Mungkin ini uniknya, berteman dengan seseorang dicap sebagai 'anti-Pancasila'.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video