Dalam mencari kandungan DNA, ilmuwan menggunakan cairan berwarna merah tua yang ditemukan pada bangkai mamut ini. Cairan tersebut adalah darah yang keluar dan mengering saat hewan purba itu mati.
Dengan adanya cairan ini, besar kemungkinan bagi para ilmuwan untuk menemukan inti sel yang utuh dan berisi petunjuk lengkap rangkaian DNA untuk membuat mamut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teori memang jauh lebih mudah dari pada praktiknya. Menurut Tori Herridge, ahli Paleobiologi di Museum London, Inggris, proses penggandaan makhluk purba ini akan memakan waktu lama.
Menurutnya, kandungan darah mamut yang ditemukan tidak memenuhi syarat untuk melakukan penggandaan.
"Mereka menyebutnya darah, namun pada kenyataannya cairan itu hanyalah cairan kemerahan. Para peneliti tidak menemukan sel darah merah yang utuh, tapi cairan merah itu masih berasal dari hemoglobin," kata Herridge.
Menanggapi hal ini, Insung Hwang, salah seorang peneliti mengatakan, DNA mamut kini telah pulih dari beberapa sel spesimen dan dalam waktu dua tahun ke depan, peneliti akan menganalisa ribuan sampel tambahan.
"Ada kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang luar biasa," kata Hwang.
Hwang menambahkan jika bangkai mamut ini dapat memberi peta genetika yang akurat, maka para peneliti dapat menggunakannya sebagai template untuk membawa kembali mamut ke permukaan bumi.