"Tadi pesawat Orion mendeteksi sesuatu tapi belum dipastikan sesuatu itu apa, sekarang pesawat kita dari utara bergeser ke lokasi (dideteksinya sesuatu)," kata Panglima Komando Operasi 1 Jakarta Marsda TNI, Dwi Putranto, kepada wartawan di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin (29/12/2014).
Lokasi yang dilaporkan P-3 Orion itu sekitar 1,120 kilo meter dari lokasi terakhir terlacaknya pesawat AirAsia QZ8501.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keesokan harinya, Badan SAR Nasional mengumumkan telah menemukan serpihan dari bagian pesawat. Serpihan-serpihan ini ditemukan di 03.52,50 lintang Selatan dan 110.30,53 Bujur Timur, Koordinat kedua 03.52,73 Lintang Selatan dan 110.30,18 Bujur Timur, dan Koordinat ketiga 03.52,62 Lintang Selatan dan 110.29,39 Bujur Timur.
Kini, P-3 Orion dipakai oleh Angkatan Laut Amerika Serikat, Jepang, Korea Selata, Tiongkok, dan Australia.
Pesawat ini mampu membawa rudal atau nuklir. Satu konfigurasi tambahan yang ada di bawah badan pesawat, mampu membawa senjata lain seperti bom atau peluru kendali.
P-3 Orion dilengkapi dengan detektor anomali magnetik (MAD) di bagian ekor. Alat ini mampu mendeteksi anomali magnetik kapal selam di medan magnet Bumi. Dengan bekal fitur ini, P-3 Orion bisa melacak lokasi kapal selam.
Menurut catatan, pesawat P-3 Orion juga sempat dikerahkan dalam pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Selain itu, pesawat jenis ini juga sering digunakan untuk mengintai sejumlah aksi pembajakan kapal laut, termasuk yang terjadi di Somalia pada kapal tangker minyak di Teluk Aden. Kala itu, P-3 Orion menjatuhkan bom asap.