Cerita Ahmed memang cukup menyedihkan. Ia merakit sebuah jam digital yang disangka petugas sekolah adalah bom. Polisi pun datang dan meringkus remaja penggemar robot tersebut.
Namun dugaan bom tak terbukti. Itu hanyalah jam biasa yang dirancang dan dibuat Ahmed di dalam kamarnya. Kasus ini pun santer jadi perbincangan karena guru dan sekolah dinilai terlalu berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ahmed, kalau kamu mau datang ke Facebook, saya akan sangat senang menemui mu. Teruslah berkarya,” tulis akun resmi Mark Zuckerberg. (Baca juga: Mohamed Ditangkap Karena Rakit Jam yang Dikira Bom ke Sekolah)
![]() |
Melalui Twitter, ia mengunggah sebuah jam digital yang disatukan dengan kentang melalui untaian kabel. Ini adalah kreasinya waktu masih anak-anak dulu.
“Bagi saya ini lebih terlihat seperti granat,” kicaunya.
Google pun ikut mendukung Ahmed dengan menyediakan tempat di acara Science Fair.
Carl Bass, CEO dari produsen peranti lunak Autodesk, secara pribadi ingin mengajak Ahmed berkarya bersama. (Baca juga: Obama Turut Puji Remaja Muslim yang Dikira Merakit Bom)
Berkat dukungan para bos-bos teknologi, cerita Ahmed pun mendunia dengan tagar #IStandWithAhmed
![]() |

