Program ini merupakan proyek yang diinisiasi NASA bersama GLOBE (Global Learning and Observations to Benefit the Environment) untuk membantu validasi data satelit di dalam formasi awan. Tak perlu menjadi peneliti ulang, NASA mengajak siapa pun untuk terlibat dalam program ini.
Peserta yang ingin mengabadikan foto awan diminta untuk membuat maksimal 10 foto dalam sehari menggunakan aplikasi GLOBE Observer. Agar mendapatkan pengamatan terbaik, peserta diminta menunggu sekitar 10 hingga 15 menit untuk melihat perubahan atmosfer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sedang beralih dari musim dingin ke usim semi, jadi tipe badai tentu akan mengalami perubahan, yang mana juga akan mengubah tipe awan," ungkap Marile Colon Robles, pimpinan GLOBE Clouds mengutip laman NASA.
Meskipun instrumen CERES sudah menggunakan teknologi termutakhir, namun peneliti mengaku tidak mudah untuk mengidentifikais secara tepat semua jenis awan yang mereka foto. Misalnya, kesulitan membedakan tingkat ketipisan awan cirrus tipis dan tipis dari salju, karena keduanya cenderung dingin dan berwarna cerah. Terlebih, saat awan cirrus berada di atas permukaan salju atau ketika salju turun.
Sebagai informasi, instrumen CERES FM6 diluncurkan ke orbit pada 18 November 2017 dan mulai melakukan pengukuran sejak 5 Januari 2018.
Nantinya, NASA akan membuatkan sebuah video yang diunggah ke situs GLOBE Program dan media sosial sebagai apresiasi bagi peserta dengan pengamatan awan terbanyak. Aplikasi GLOBE Observer yang bisa digunakan untuk progaram ini telah tersedia untuk pengguna iOS dan Android. (evn)