Zuckerberg mengatakan tak bermaksud membela orang-orang yang tidak memercayai peristiwa tersebut. Zuckerberg sendiri memang merupakan bagian dari etnis Yahudi.
"Saya pribadi menganggap ketidakpercayaan terhadap Holocaust sebagai sesuatu yang sangat ofensif, dan saya sungguh tidak bermaksud untuk membela orang-orang yang tidak memercayai peristiwa tersebut," tulis Zuckerberg dalam sebuah email, Rabu (18/7) seperti dilansir dari CNN. Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Recode, Zuckerberg menyatakan bahwa Facebook tidak melarang unggahan konten tentang ketidakpercayaan terhadap Holocaust.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam hal ini, kami merasa tanggung jawab kami adalah untuk mencegah hoaks (berita palsu) menjadi viral dan didistribusikan kepada banyak orang," ujarnya dalam wawancara tersebut, dikutip dari Recode.
Langkah untuk memblokir akun seseorang ketika ia mengunggah sesuatu dengan pemahaman yang salah dianggap terlalu ekstrim oleh Facebook. Oleh sebab itu, Facebook memilih untuk memastikan bahwa pemahaman-pemahaman yang salah tersebut tidak menjadi viral dan dibaca oleh banyak orang.
"Yang kami lakukan adalah kami mengatakan kepada pengguna, 'Anda memiliki laman Anda sendiri, dan selama Anda tidak mencoba untuk merencanakan kejahatan atau menyerang seseorang, Anda boleh mengunggah konten itu di laman Anda, bahkan ketika orang lain mungkin tidak setuju atau merasa postingan Anda ofensif,'" tutur Zuckerberg.
Perkataannya dalam wawancara tersebut kemudian memicu sejumlah komentar negatif dari netizen. Banyak dari mereka menganggap bahwa ketidakpercayaan terhadap Holocaust adalah sesuatu yang ofensif, dan seharusnya Facebook berani untuk melarang konten tentang hal tersebut. (eks)