Pasalnya klaim ini berdasarkan data yang didapat oleh audit internal Facebook. Oleh karena itu, Rudiantara membutuhkan partisipasi dari masyarakat Indonesia untuk melapor ke Kominfo apabila merasa datanya bocor ke pihak Cambridge Analytica (CA).
"Facebook katakan tidak ada data yang bocor di Indonesia, ya saya tidak tahu kan benar atau tidak. Makanya saya ragu-ragu, saya minta masyarakat Indonesia untuk kasih tau kalau ada kebocoran data," ujar Rudiantara di Rumah Dinas Kominfo, Jakarta Pusat, Jumat (21/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Facebook Keberatan Bayar Denda Rp9,5 Miliar |
Rudiantara mengatakan masyarakat Indonesia bisa mendeteksi kebocoran data lewat penggunaan aplikasi Informasi dalam akun pengguna umumnya akan dicuri apabila mereka pernah mengakses aplikasi kuis kepribadian "This Is Your Digital Life".
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Semuel Abrijani Pangerapan menyebut berdasarkan data dari audi internal Facebook, kebocoran data hanya terjadi di Amerika Serikat. Bukan di seluruh dunia seperti yang sebelumnya ramai diberitakan.
Baik pernyataan Rudiantara maupun Semuel ini berbanding terbalik dengan data dugaan ada 1.096.666 akun diambil oleh CA. Semuel mengatakan angka satu juta ini merupakan klaim whistleblower bukan dari Facebook.
Semuel mengatakan pihak Kominfo masih menunggu hasik audit pihak otoritas Inggris untuk menentukan langkah selanjutnya. Tindakan pengajuan bankrut dark CA adalah bukti bahwa CA melakukan kesalahan.
"Klaim satu juta itu kan klaimnya whistleblower. Bukan dari Facebook. CA jugabmenyatakan bankrut, itu artinya dia merasa bersalah. Kalau tidak kan mereka bisa dituntut sampai habis,"ujar Semuel. (age)