Sebab menurut Marco, pemerintah China bisa meminta perusahaan yang ada di negara itu untuk membuka data pengguna. Sementara hal itu tak bisa dilakukan di Amerika Serikat.
"Kita harus memahami bahwa perusahaan China tidak seperti perusahaan Amerika. Kita bahkan tidak bisa meminta Apple membukakan iPhone untuk investigasi teroris," jelas Senator Amerika Serikat Marco Rubio pada CBS, Minggu (10/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rubio yakin kali ini usulnya akan didukung oleh Gedung Putih karena dia menyebut beberapa perusahaan asal China seperti Huawei dan ZTE telah membuat keamanan Amerika terancam.
Meng dianggap melakukan penipuan ketika pada 2013 ia membuat pengakuan palsu kepada bank di AS. Saat itu ia menyebut kalau perusahaannya tidak memiliki hubungan dengan perusahaan HongKong yang bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi Iran.
Meng disebut telah menyembunyikan hubungan antara Huawei dan Skycom, padahal sebenarnya karyawan Skycom bekerja untuk perusahaan besar China tersebut. Menurut jaksa Crown John Gibb-Carsley Huawei telah mengoperasi Skykom tanpa sepengetahuan bank di AS itu, menurut CNN.
Di sisi lain, otoritas Kanada mewakili kehadiran AS dalam kasus terhadap Meng pada akhir pekan lalu dengan harapan untuk mengekstradisinya. Jaksa AS menolak membebaskan Meng dengan uang jaminan. Sebab, putri pendiri Huawei itu memiliki kekayaan berlimpah sehingga dia akan mudah membayar berapapun untuk melarikan diri.
Lembaga keuangan AS kini menyebut transaksi Skykom melanggar undang-undang sanksi dan mereka ingin transaksi itu dikenakan denda. Sayangnya, Crown tidak menyebutkan nama-nama bank yang terlibat.
Sementara itu, pengacara Meng, David Martin, mengatakan bukti yang disajikan jaksa tidak membuktikan kliennya melanggar hukum AS atau Kanada. Undang-undang perjanjian AS sangat kompleks, telah berubah dari waktu ke waktu, dan ada pengecualian untuk peralatan telekomunikasi dalam sanksi Iran di negara itu. (kst/eks)