Pratama mengungkapkan hal tersebut setelah muncul laporan dari KrebsOnSecurity yang menemukan 600 juta kata sandi pengguna disimpan oleh Facebook. Kata sandi ini disimpan dalam format teks biasa yang bisa dicari oleh lebih dari 20 ribu karyawan Facebook.
"Kasus ini jelas sangat mencoreng nama Facebook. Sekaligus menjadi peringatan bahwa tidak ada sistem yang aman, sehingga sebaiknya para pengguna media sosial dan platform lainnya untuk berkala mengganti password," ujar Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:4 Langkah Atasi Akun WhatsApp yang Diretas |
"Dengan kata sandi yang terbuka tersebut, memungkinkan karyawan Facebook melihat dan mengaksesnya. Sementara Facebook sendiri baru mengakuinya beberapa bulan kemudian," ucap Pratama.
"Salah satu langkah paling penting adalah mematikan akses pihak ketiga ke media sosial kita. Di Faceboo dan Twitter sering kita memberikan akses ke pihak ketiga seperti kuis dan layanan aplikasi lainnya. Kasus Cambridge Analytica bermula dari aplikasi pihak ketiga," terangnya. (jnp/evn)