Melihat situasi seperti ini, menarik untuk mengupas agenda kunjungan Presiden ke Amerika Serikat. Sepenting apakah, sehingga Presiden harus meninggalkan Tanah Air yang sedang ‘tenggelam’ oleh kabut asap?
Jokowi sempat mengatakan tujuan utama kunjungannya, saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Sabtu (24/10). “Tujuan utama kunjungan ini adalah meningkatkan kerja sama bilateral Indonesia dan Amerika. Utamanya di bidang investasi dan perdagangan, dan juga di bidang ekonomi digital dan ekonomi kreatif,” kata Presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan bertemu dengan Obama di Gedung Putih, Senin (26/10) waktu setempat. Yang menjadi topik pembahasan kedua tokoh, menurut Menlu Marsudi, pertama, adalah mengenai posisi strategis Indonesia sebagai negara muslim dan negara demokrasi terbesar di dunia, yang memiliki nilai toleran dan pluralis.
Topik pembicaraan ketiga adalah tentang peningkatan pasar digital di Indonesia. Nilai pasar ini telah naik dari US$8 miliar pada 2013 menjadi US$12 miliar pada 2014. Peningkatan tersebut membuat Indonesia sebagai negara dengan pasar digital terbesar di Asia Tenggara.
Topik terakhir adalah masalah perubahan iklim, yang sedang menjadi momok di seluruh bagian dunia.
Nah, sudah ada empat alasan Jokowi ke AS. Teman-teman bisa menilai sendiri, sudah pantaskah kunjungan itu dilakukan pada saat situasi sekarang? Apakah Joko Widodo akan pulang dengan jawaban mengenai masalah-masalah di Tanah Air yang saat ini belum terselesaikan? (ded/ded)