Dalam setiap cerpennya, perempuan yang juga dosen di jurusan Bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Singaraja ini memang selalu membuat karya cerpen yang memiliki kesan harapan dan impian namun turut dihantui dengan kecemasan, ketakutan, dan kehampaan.
Saking ekstrimnya, cerpen karya Sonia bahkan kerap kali ditolak untuk dimuat di banyak media. Salah satunya cerpen berjudul "Tetek". Cerpen ini menceritakan kegelisahan perempuan karena memilik payudara, dan memutuskan untuk mengirisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sonia yang tak ingin patah semangat, dan karena kecintaannya dengan dunia sastra memutuskan untuk mengumpulkan semua cerpennya ke dalam sebuah buku yang diberi judul Perempuan Tanpa Nama. Karyanya ini adalah perjalanan panjang dalam melahirkan sebuah karya, sekumpulan cerita pendek dalam buku ini lahir dari perjalanannya sebagai penulis sejak 13 tahun silam.
Kini ibu dari dua anaknya yang bernama Putik dan Kayu ini bisa mengilustrasikan semua karyanya dalam sebuah buku tanpa khawatir ditolak untuk dimuat. Ia beserta sang suami Made Adnyana Ole mendirikan perusahaan penerbitan sendiri, yang mereka beri nama Mahima Institute Indonesia. Dalam perusahaan keluarga ini, pasangan yang berprofesi sama sebagai penulis ini lebih tertarik menerbitkan buku dengan menekankan idealisme sastra, daripada mengikuti trend pasar.