PENELITIAN DI KELAS AKSELERASI
Mendorong Pembangkit Tenaga Listrik Alternatif
Bahariyani Mareza | CNN Indonesia
Selasa, 26 Jul 2016 14:58 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai siswa-siswi yang termasuk ke dalam kelas akselerasi, sejumlah siswa di SMP Labschool Kebayoran melakukan pembelajaran berbasis masalah. Belajar dari masalah?
Kalian mungkin akan cenderung menghindari sesuatu yang menimbulkan masalah, kan? Namun, bagi siswa kelas akselerasi di SMP Labschool Kebayoran, masalah adalah sumber pembelajaran mereka.
Salah satu teman kita yang melakukan hal tersebut adalah Ali Hasman Pahlevi, yang saat ini berada dikelas 9F dan mengikuti program Problem Based Learning. Dia menulis soal Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro atau disingkat dengan PLTMH.
Tema tersebut ia angkat karena menurutnya pemanfaatan energi yang selama ini banyak digunakan, kurang ramah lingkungan dan mengabaikan kelestarian alam.
Menurut Ali, pembangkit listrik mini hydro dirasakan cukup untuk menjadi energi alternatif yang memiliki emisi dan zat limbah yang sangat minim.
Mini Hydro merupakan salah satu energi alternatif dari tenaga air. Seperti yang diketahui dalam pembangkit listrik tenaga air terdapat dua jenis yaitu macro hydro dan mini hydro.
Mini hydro merupakan pembangkit listrik tenaga air dengan berkapasitas lebih dari 1 Megawatt (MW) namun masih di bawah 10 MW.
Prinsip kerjanya tidak jauh berbeda dengan PLTA yang memanfaatkan aliran air dengan membangun bendungan. Namun karena energi yang rendah membuat mini hydro lebih ramah lingkungan.
Terlebih Indonesia merupakan negara yang memiliki aliran sungai sebanyak 7.956 aliran dan 512 danau yang baru dimanfaatkan sekitar 7,54 persen saja. Padahal dalam pemanfaatannya energi mini hydro dapat menghasilkan tenaga listrik mencapai 75.000 MW.
Selain itu, pompa mini hydro terbukti menghasilkan emisi GHG (Green House Gasses) 30-60 kali lebih rendah dari pembangkit tenaga listrik uap yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Dari hasil penelitiannya, Ali mengaku ingin ke depannya Indonesia dapat memaksimalkan pemanfaatan pompa mini hydro sehingga menciptakan pemanfaatan energi yang tidak lagi merusak lingkungan. (ded/ded)
Kalian mungkin akan cenderung menghindari sesuatu yang menimbulkan masalah, kan? Namun, bagi siswa kelas akselerasi di SMP Labschool Kebayoran, masalah adalah sumber pembelajaran mereka.
Salah satu teman kita yang melakukan hal tersebut adalah Ali Hasman Pahlevi, yang saat ini berada dikelas 9F dan mengikuti program Problem Based Learning. Dia menulis soal Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro atau disingkat dengan PLTMH.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ali, pembangkit listrik mini hydro dirasakan cukup untuk menjadi energi alternatif yang memiliki emisi dan zat limbah yang sangat minim.
Mini hydro merupakan pembangkit listrik tenaga air dengan berkapasitas lebih dari 1 Megawatt (MW) namun masih di bawah 10 MW.
Prinsip kerjanya tidak jauh berbeda dengan PLTA yang memanfaatkan aliran air dengan membangun bendungan. Namun karena energi yang rendah membuat mini hydro lebih ramah lingkungan.
Terlebih Indonesia merupakan negara yang memiliki aliran sungai sebanyak 7.956 aliran dan 512 danau yang baru dimanfaatkan sekitar 7,54 persen saja. Padahal dalam pemanfaatannya energi mini hydro dapat menghasilkan tenaga listrik mencapai 75.000 MW.
Selain itu, pompa mini hydro terbukti menghasilkan emisi GHG (Green House Gasses) 30-60 kali lebih rendah dari pembangkit tenaga listrik uap yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Dari hasil penelitiannya, Ali mengaku ingin ke depannya Indonesia dapat memaksimalkan pemanfaatan pompa mini hydro sehingga menciptakan pemanfaatan energi yang tidak lagi merusak lingkungan. (ded/ded)